Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Masyarakat Aceh Tolak Gambar Cut Meutia tak Berjilbab di Uang Baru, Pemerintah Harus Tarik Kembali


Aceh ~ Konsorsium Peusaba dan Anggota Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi mengecam keras lukisan pahlawan Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada lembaran uang kertas terbaru pecahan seribu rupiah tanpa jilbab.

“Kami mengecam lukisan srikandi Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada mata uang baru tanpa berjilbab, ini sangat mencoreng nama baik Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Syariat Islam,” ujar Mawardi Usman kepada mediaaceh via telepon seluler, Selasa, 20 Desember 2016.

Konsorsium yang bergerak aktif dalam bidang sejarah, adat dan budaya Aceh ini menilai, pemuatan lukisan itu tidak sesuai dengan karakter Cut Meutia yang dikenal sebagai srikandi Aceh dan pejuang Islam. Mawardi mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar menarik ulang dan menggantinya dengan lukisan Cut Meutia yang berhijab. Hal ini dikatakan Mawardi untuk mencegar peredaran uang kertas ke khalayak publik.

“Kami mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar segera menariknya. Tujuannya adalah untuk menghindari sikap mosi tak percaya rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat yang secara nyata telah mencoreng nama baik pahlawan Aceh,” ujar Mawardi Usman

Sementara itu di tempat berbada, Asrizal H  menaakan kalau diAceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya. Jadi adanya uang baru gambar cut mutia tanpa jilbab menurutnya melemahkan usaha tersebut.

Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.

Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia. (Tribun/int) 

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah








BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 








http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Aceh ~ Konsorsium Peusaba dan Anggota Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi mengecam keras lukisan pahlawan Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada lembaran uang kertas terbaru pecahan seribu rupiah tanpa jilbab.

“Kami mengecam lukisan srikandi Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada mata uang baru tanpa berjilbab, ini sangat mencoreng nama baik Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Syariat Islam,” ujar Mawardi Usman kepada mediaaceh via telepon seluler, Selasa, 20 Desember 2016.

Konsorsium yang bergerak aktif dalam bidang sejarah, adat dan budaya Aceh ini menilai, pemuatan lukisan itu tidak sesuai dengan karakter Cut Meutia yang dikenal sebagai srikandi Aceh dan pejuang Islam. Mawardi mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar menarik ulang dan menggantinya dengan lukisan Cut Meutia yang berhijab. Hal ini dikatakan Mawardi untuk mencegar peredaran uang kertas ke khalayak publik.

“Kami mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar segera menariknya. Tujuannya adalah untuk menghindari sikap mosi tak percaya rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat yang secara nyata telah mencoreng nama baik pahlawan Aceh,” ujar Mawardi Usman

Sementara itu di tempat berbada, Asrizal H  menaakan kalau diAceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya. Jadi adanya uang baru gambar cut mutia tanpa jilbab menurutnya melemahkan usaha tersebut.

Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.

Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia. (Tribun/int) 

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah








BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 








http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUDAHKAH Anda Bertobat dari Nyinyirin Fatwa MUI? Ini Cerita Tobatnya Tere Liye




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

FOTO ini membantah Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru ?

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUBHANALLAH ! Rahasia di Balik Moncernya Striker Liverpool Ini Adalah Sholat 5 Waktu!


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

CATAT ! Fatwa MUI 56/2016 terbit karena banyak karyawan muslim yang mengeluh dipaksa gunakan atribut natal


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin menegaskan respon sebagain pihak terhadap fatwa MUI no. 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan non-Muslim tidak berimbang.

"Tanggapan terhadap fatwa tidak proporsional, bahkan tidak kontekstual," kata Kiyai Ma'ruf di gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (201/12/2016).

Apalagi, kata Kiyai Ma'ruf, MUI selain mengeluarkan fatwa twrsebuy. MUI juga meminta perlindungan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran syariatnya dengan murni dan benar.

Menurut Kiyai Ma'ruf, fatwa MUI tersebut muncul untuk merespon pertanyaan masyarakat yang mengalami fenomena pengharusan pemakaian atribut Natal di perkantoran, di pertokoan, dan di kantor pemerintah dari pihak-pihak yang ingin memeriahkan acara keagamaannya. Kemudian, MUI mengkaji persoalan tersebut dan mengeluarka fatwa yang intinya.

Pertama, menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram.

"Kedua, mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram," jelasnya.

Secara jelas, kata Kiyai Ma'ruf, fatwa tersebut ditujukan kepada umat Islam agar menjaga akidah dan keyakinannya. "Serta melarang pihak manapun untuk mengajak dan atau memerintahkan kepada umat Islam untuk menggunakan atribut keagamaan non-Muslim, karena hal itu bertentangan dengan akidah dan keyakinannya," ungkapnya.

Lanjutnya, fatwa MUI mempunyai daya ikat keagamaan (ilzam syar'i) dan meruoakan panduan bagi umat Islam dalam menjaga aqidah dan keyakinannya, serta menjadi kaedah penuntun dan sumber inspirasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Oleh karena itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi kepada berbagai pihak , khususnya kepolisian dan kepala daerah yang menjadikan fatwa tersebut sebagai sumber rujukan dalam menjaga ketertiban dan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kiyai Ma'ruf. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin menegaskan respon sebagain pihak terhadap fatwa MUI no. 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan non-Muslim tidak berimbang.

"Tanggapan terhadap fatwa tidak proporsional, bahkan tidak kontekstual," kata Kiyai Ma'ruf di gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (201/12/2016).

Apalagi, kata Kiyai Ma'ruf, MUI selain mengeluarkan fatwa twrsebuy. MUI juga meminta perlindungan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran syariatnya dengan murni dan benar.

Menurut Kiyai Ma'ruf, fatwa MUI tersebut muncul untuk merespon pertanyaan masyarakat yang mengalami fenomena pengharusan pemakaian atribut Natal di perkantoran, di pertokoan, dan di kantor pemerintah dari pihak-pihak yang ingin memeriahkan acara keagamaannya. Kemudian, MUI mengkaji persoalan tersebut dan mengeluarka fatwa yang intinya.

Pertama, menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram.

"Kedua, mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram," jelasnya.

Secara jelas, kata Kiyai Ma'ruf, fatwa tersebut ditujukan kepada umat Islam agar menjaga akidah dan keyakinannya. "Serta melarang pihak manapun untuk mengajak dan atau memerintahkan kepada umat Islam untuk menggunakan atribut keagamaan non-Muslim, karena hal itu bertentangan dengan akidah dan keyakinannya," ungkapnya.

Lanjutnya, fatwa MUI mempunyai daya ikat keagamaan (ilzam syar'i) dan meruoakan panduan bagi umat Islam dalam menjaga aqidah dan keyakinannya, serta menjadi kaedah penuntun dan sumber inspirasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Oleh karena itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi kepada berbagai pihak , khususnya kepolisian dan kepala daerah yang menjadikan fatwa tersebut sebagai sumber rujukan dalam menjaga ketertiban dan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kiyai Ma'ruf. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ada Poster “Umat Islam Dukung Ahok”, Ibu Ini Heroik Terobos Massa Pendukung Ahok

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

JAKSA : Ekspesi Ahok yang Mengklaim Peduli Umat Islam Tak Bisa jadi Pembelaan

 Keberatan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menyatakan bahwa sangat peduli dengan umat Islam selama menjabat sebagai gubernur DKI dinilai jaksa sebagai hal yang wajar.

Sebab, sepanjang hal tersebut berkaitan dengan kebijakan Ahok sebagai gubernur adalah hal biasa dan sudah menjadi kewajibannya sebagai gubernur.

“Sehingga hal itu tidak bisa menjadi pembelaan,” ujar jaksa Ali Mukartono saat membacakan materi tanggapan di PN Jakut, Selasa (20/12).

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (kanan) mendengarkan tanggapan Jaksa atas nota keberatan (eksepsi) saat sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama di PN Jakarta Utara, Jakarta, Selasa (20/12). ANTARA FOTO/Pool/M Agung Rajasa/16






Jaksa meminta agar majelis hakim menolak keberatan dari Ahok sebagai terdakwa dan penasihat seluruhnya. Jaksa juga menyatakan bahwa dakwaan pada Ahok telah dibuat secara sah menurut hukum.

“Kami memohon agar pemeriksaan perkara terdakwa dilanjutkan.”

Hakim sendiri memutuskan untuk menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembacaan putusan sela.

Laporan: M Zhacky Kusumo

(Wisnu)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

 Keberatan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menyatakan bahwa sangat peduli dengan umat Islam selama menjabat sebagai gubernur DKI dinilai jaksa sebagai hal yang wajar.

Sebab, sepanjang hal tersebut berkaitan dengan kebijakan Ahok sebagai gubernur adalah hal biasa dan sudah menjadi kewajibannya sebagai gubernur.

“Sehingga hal itu tidak bisa menjadi pembelaan,” ujar jaksa Ali Mukartono saat membacakan materi tanggapan di PN Jakut, Selasa (20/12).

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (kanan) mendengarkan tanggapan Jaksa atas nota keberatan (eksepsi) saat sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama di PN Jakarta Utara, Jakarta, Selasa (20/12). ANTARA FOTO/Pool/M Agung Rajasa/16






Jaksa meminta agar majelis hakim menolak keberatan dari Ahok sebagai terdakwa dan penasihat seluruhnya. Jaksa juga menyatakan bahwa dakwaan pada Ahok telah dibuat secara sah menurut hukum.

“Kami memohon agar pemeriksaan perkara terdakwa dilanjutkan.”

Hakim sendiri memutuskan untuk menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembacaan putusan sela.

Laporan: M Zhacky Kusumo

(Wisnu)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tiga Wajah Pahlawan Muslim yang Tak Bisa Dijumpai Lagi dalam Lembaran Rupiah





Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi berdiri di depan mimbar podium, di samping kanannya berdiri Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo dan di sebelah kirinya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ketiga orang yang memakai batik itu memencet sirine di mimbar.

Sirine berbunyi, dan layar LCD di belakang mereka menampakkan lembaran Rupiah lama yang berputar-putar. Uang lama berwajah para proklamator dan para pahlawan itu berbaris. Kemudian hilang. Lalu muncul kilatan wajah-wajah para pahlawan yang akan mengisi Rupiah baru.

“Dan saya rasa penting, kalau kita cinta rupiah, kita tidak menyebar gosip aneh-aneh dan kabar bohong tentang rupiah. Karena menghina rupiah sama saja menghina Indoensia. Rupiah tidak akan digantilan dan tidak akan tergantikan,” kata Jokowi di Gedung Bank Indonesia dengan gayanya yang khas, Senin (19/12/2016).

Pecahan kertas, dari Rp 100.000 (bergambar Soekarno dan Moh. Hatta), Rp 50.000 (bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp 20.000 (bergambar G.S.S.J Ratulangi), Rp 10.000 (bergambar Frans Kaisiepo), Rp 5.000 (bergambar K.H Idham Chalid), Rp 2.000 (bergambar Mohammad Hoesni Thamrin) dan Rp 1.000 (bergambar Tjut Meutia).

Sementara untuk pecahan logam, mulai dari Rp 1.000 (gambar utama I Gusti Ketut Pudja), Rp 500 (gambar utama Letjend TNI T.B Simatupang), Rp 200 (gambar utama Tjiptomangunkusumo) dan Rp 100 (gambar utama Herman Johannes).

Dari gambar-gambar utama tersebut banyak nama asing yang jarang kita dengarkan, bahkan konon jarang dibahas di buku-buku sejarah. Yang tetap bertahan yaitu Presiden RI pertama Soekarno dan Moh. Hatta. Keduanya berada di posisi pecahan kertas tertinggi. Lalu, ada para pahlawan muslim yang sebelumnya ada tapi di lembaran baru ini tidak ada. Mengapa? Yang tahu tentang ini hanya Jokowi. Nah, berikut para pahlawan yang wajahnya tidak akan kita jumpai lagi di lembaran Rupiah baru.

1. Pangeran Antasari
Antasari adalah Sultan Banjar. Ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja 14 Maret 1862.

Antasari dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah RI berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.

2. Tuanku Imam Bonjol
Nama aslinya adalah Muhammad Shahab. Lahir di Bonjol pada tahun 1772. Ia mendapat beberapa gelar, antara lain Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam.

Tuanku diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

3. Sultan Mahmud Badaruddin II
Ia adalah anak dari Sultan Mahmud Badaruddin. Ia memimpin pertempuran melawan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng.

Selain diabadikan dalam lembaran Rupiah, namanya juga diabadikan sebagai bandara internasional di Palembang.

Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Mahmud Badaruddin II, wajah-wajahnya tak akan menghiasi lagi dalam lembaran rupiah yang kita pegang. [Paramuda/BersamaDakwah] 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !





Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi berdiri di depan mimbar podium, di samping kanannya berdiri Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo dan di sebelah kirinya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ketiga orang yang memakai batik itu memencet sirine di mimbar.

Sirine berbunyi, dan layar LCD di belakang mereka menampakkan lembaran Rupiah lama yang berputar-putar. Uang lama berwajah para proklamator dan para pahlawan itu berbaris. Kemudian hilang. Lalu muncul kilatan wajah-wajah para pahlawan yang akan mengisi Rupiah baru.

“Dan saya rasa penting, kalau kita cinta rupiah, kita tidak menyebar gosip aneh-aneh dan kabar bohong tentang rupiah. Karena menghina rupiah sama saja menghina Indoensia. Rupiah tidak akan digantilan dan tidak akan tergantikan,” kata Jokowi di Gedung Bank Indonesia dengan gayanya yang khas, Senin (19/12/2016).

Pecahan kertas, dari Rp 100.000 (bergambar Soekarno dan Moh. Hatta), Rp 50.000 (bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp 20.000 (bergambar G.S.S.J Ratulangi), Rp 10.000 (bergambar Frans Kaisiepo), Rp 5.000 (bergambar K.H Idham Chalid), Rp 2.000 (bergambar Mohammad Hoesni Thamrin) dan Rp 1.000 (bergambar Tjut Meutia).

Sementara untuk pecahan logam, mulai dari Rp 1.000 (gambar utama I Gusti Ketut Pudja), Rp 500 (gambar utama Letjend TNI T.B Simatupang), Rp 200 (gambar utama Tjiptomangunkusumo) dan Rp 100 (gambar utama Herman Johannes).

Dari gambar-gambar utama tersebut banyak nama asing yang jarang kita dengarkan, bahkan konon jarang dibahas di buku-buku sejarah. Yang tetap bertahan yaitu Presiden RI pertama Soekarno dan Moh. Hatta. Keduanya berada di posisi pecahan kertas tertinggi. Lalu, ada para pahlawan muslim yang sebelumnya ada tapi di lembaran baru ini tidak ada. Mengapa? Yang tahu tentang ini hanya Jokowi. Nah, berikut para pahlawan yang wajahnya tidak akan kita jumpai lagi di lembaran Rupiah baru.

1. Pangeran Antasari
Antasari adalah Sultan Banjar. Ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja 14 Maret 1862.

Antasari dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah RI berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.

2. Tuanku Imam Bonjol
Nama aslinya adalah Muhammad Shahab. Lahir di Bonjol pada tahun 1772. Ia mendapat beberapa gelar, antara lain Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam.

Tuanku diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

3. Sultan Mahmud Badaruddin II
Ia adalah anak dari Sultan Mahmud Badaruddin. Ia memimpin pertempuran melawan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng.

Selain diabadikan dalam lembaran Rupiah, namanya juga diabadikan sebagai bandara internasional di Palembang.

Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Mahmud Badaruddin II, wajah-wajahnya tak akan menghiasi lagi dalam lembaran rupiah yang kita pegang. [Paramuda/BersamaDakwah] 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

BENARKAH ? Uang Pecahan Baru Tak Dicetak oleh Peruri, Melainkan Pengusaha Keturunan China


Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyebutkan uang pecahan baru Tahun Emisi (2016) yang telah diluncurkan secara resmi Senin (19/12) kemarin dicetak di dalam negeri. Sebagian bahan baku uang tersebut berasal dari impor melalui beberapa negara dan beberapa perusahaan tender.

Namun Agus enggan menyebutkan siapa pihak perusahaan yang melakukan pencetakan uang, meskipun terdengar kabar bahwa uang tersebut tidak dicetak oleh Prum Peruri, melainkan oleh pihak swasta yang berada di Kota Kuduus Jawa Tengah. Agus mengklaim proses tender tersebut dilakukan secara profesional dan dimenangkan oleh perusahaan secara governance-nya berkategori sangat baik.
“Kalau bahan baku, ada dari impor dan ada dari nasional. Tetapi pencetakannya sepenuhnya di negara Indonesia. Tentu bahan baku ada beberapa sumber dari beberapa negara. Dan itu dilakukan dengan cara tender internasional yang governance-nya baik. Saya tidak bisa sebutkan asal negaranya,” kata Agus di Jakarta, Selasa (20/12).

Selanjutnya Agus menyatakan Bank Indonesia sangat memiliki kesiapan mendistribusikan uang baru tersebut ke seluruh penjuru Indonesia, diperkirakan dalam waktu 3 bulan, uang tersebut telah tersebar secara merata. Namun untuk persoalan jumlah dana yang disebar, ia merasa hal itu bagian dari kerahasiaan Bank Indonesia.

“Kita suda siap mengedarkannya melalui Bank Indonesia di 33 proviinsi dan kita mempersiapkan yang lengkap dari uang Rp100 ribu hingga ke pecahan uang logam. Jumlahnya kami tidak bisa sebutkan tapi kami kira dalam jumlah yang cukup,” tandas Agus.

Informasi yang diterima Aktual.com dan masih dalam penelusuran, bahwa uang tersebut tidak dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), namun melainkan dicetak di Perusahaan milik Swasta di Kota Kudus, Jawa Tengah. (akt) 






Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyebutkan uang pecahan baru Tahun Emisi (2016) yang telah diluncurkan secara resmi Senin (19/12) kemarin dicetak di dalam negeri. Sebagian bahan baku uang tersebut berasal dari impor melalui beberapa negara dan beberapa perusahaan tender.

Namun Agus enggan menyebutkan siapa pihak perusahaan yang melakukan pencetakan uang, meskipun terdengar kabar bahwa uang tersebut tidak dicetak oleh Prum Peruri, melainkan oleh pihak swasta yang berada di Kota Kuduus Jawa Tengah. Agus mengklaim proses tender tersebut dilakukan secara profesional dan dimenangkan oleh perusahaan secara governance-nya berkategori sangat baik.
“Kalau bahan baku, ada dari impor dan ada dari nasional. Tetapi pencetakannya sepenuhnya di negara Indonesia. Tentu bahan baku ada beberapa sumber dari beberapa negara. Dan itu dilakukan dengan cara tender internasional yang governance-nya baik. Saya tidak bisa sebutkan asal negaranya,” kata Agus di Jakarta, Selasa (20/12).

Selanjutnya Agus menyatakan Bank Indonesia sangat memiliki kesiapan mendistribusikan uang baru tersebut ke seluruh penjuru Indonesia, diperkirakan dalam waktu 3 bulan, uang tersebut telah tersebar secara merata. Namun untuk persoalan jumlah dana yang disebar, ia merasa hal itu bagian dari kerahasiaan Bank Indonesia.

“Kita suda siap mengedarkannya melalui Bank Indonesia di 33 proviinsi dan kita mempersiapkan yang lengkap dari uang Rp100 ribu hingga ke pecahan uang logam. Jumlahnya kami tidak bisa sebutkan tapi kami kira dalam jumlah yang cukup,” tandas Agus.

Informasi yang diterima Aktual.com dan masih dalam penelusuran, bahwa uang tersebut tidak dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), namun melainkan dicetak di Perusahaan milik Swasta di Kota Kudus, Jawa Tengah. (akt) 






Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !