Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Benarkah Bapak Dari Seluruh Manusia ada Tiga ?




Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:
Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”



Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).
 
Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:
Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”



Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).
 
Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

FOTO ini membantah Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru ?

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saat Ramadhan Hormatilah Yang Tidak Puasa, Saat Natal Kok Sebaliknya, Toleransi Kok Gitu ?



Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.






Kok toleransi seperti itu, sih?


Toleransi kan seharusnya SALING menghormati. Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.

Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan? Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.






Kok toleransi seperti itu, sih?


Toleransi kan seharusnya SALING menghormati. Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.

Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan? Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Dominasi Pahlawan Non Muslim Dimata Uang RI Yang Baru, BENARKAH ?


Pemerintah saat ini nampaknya kurang menghargai keberadaan pahlawan Islam di tanah air. Pangeran Diponegoro pejuang Islam yang melegenda di tanah air, yang mengobarkan perang di Jawa melawan Belanda dihilangkan dalam mata uang 5000 rupiah. Diponegoro diganti dengan KH Idham Chalid, yang ketokohannya jauh di bawah Diponegoro. 

Sementara itu, gambar Soekarno Hatta tetap dipampang di gambar mata uang 100.000 rupiah. Entah apa maksudnya pemerintah mengganti gambar Diponegoro dan membiarkan terpampang gambar Soekarno-Hatta.

Selain itu, pada gambar uang 1000 rupiah, pahlawan Islam Pattimura juga diganti dengan I Gusti Ketut Puja tokoh Hindu Bali. I Gusti adalah bekas gubernur Bali dan tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga gambar mata uang 10.000 rupiah. Bila mata uang lama bergambar pahlawan Islam Tjut Nyak Din kemudian berubah menjadi Sultan Mahmud Badaruddin, kini mata uang ini bergambar tokoh Kristen Irian Frans Kaisiepo. Tokoh ini salah satu orang yang memperjuangkan Irian masuk ke Indonesia dan juga mantan gubernur Irian.

Uang pecahan logam 100 rupiah yang tadinya bergambar burung yang indah, juga diganti dengan tokoh Kristen Herman Johannes. Tokoh ini adalah pahlawan nasional dan mantan rektor UGM. Begitu pula uang pecahan 500 rupiah. Yang tadinya bergambar bunga melati diganti dengan pahlawan nasional beragama Kristen TB Simatupang.

Dalam pergantian gambar mata uang kemarin (19/12), nampaknya pemerintah Jokowi lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh non Islam dari pada tokoh Islam. Entah siapa yang merancang ini semua. Ya jelas nampak sekarang pahlawan-pahlawan Islam mulai disingkirkan dalam gambar mata uang di tanah air. 

Ibnu Dachli
Warga Depok, Jawa  Barat 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Pemerintah saat ini nampaknya kurang menghargai keberadaan pahlawan Islam di tanah air. Pangeran Diponegoro pejuang Islam yang melegenda di tanah air, yang mengobarkan perang di Jawa melawan Belanda dihilangkan dalam mata uang 5000 rupiah. Diponegoro diganti dengan KH Idham Chalid, yang ketokohannya jauh di bawah Diponegoro. 

Sementara itu, gambar Soekarno Hatta tetap dipampang di gambar mata uang 100.000 rupiah. Entah apa maksudnya pemerintah mengganti gambar Diponegoro dan membiarkan terpampang gambar Soekarno-Hatta.

Selain itu, pada gambar uang 1000 rupiah, pahlawan Islam Pattimura juga diganti dengan I Gusti Ketut Puja tokoh Hindu Bali. I Gusti adalah bekas gubernur Bali dan tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga gambar mata uang 10.000 rupiah. Bila mata uang lama bergambar pahlawan Islam Tjut Nyak Din kemudian berubah menjadi Sultan Mahmud Badaruddin, kini mata uang ini bergambar tokoh Kristen Irian Frans Kaisiepo. Tokoh ini salah satu orang yang memperjuangkan Irian masuk ke Indonesia dan juga mantan gubernur Irian.

Uang pecahan logam 100 rupiah yang tadinya bergambar burung yang indah, juga diganti dengan tokoh Kristen Herman Johannes. Tokoh ini adalah pahlawan nasional dan mantan rektor UGM. Begitu pula uang pecahan 500 rupiah. Yang tadinya bergambar bunga melati diganti dengan pahlawan nasional beragama Kristen TB Simatupang.

Dalam pergantian gambar mata uang kemarin (19/12), nampaknya pemerintah Jokowi lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh non Islam dari pada tokoh Islam. Entah siapa yang merancang ini semua. Ya jelas nampak sekarang pahlawan-pahlawan Islam mulai disingkirkan dalam gambar mata uang di tanah air. 

Ibnu Dachli
Warga Depok, Jawa  Barat 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Politik Pengetahuan dalam Rupiah Baru, "Tiada Pahlawan Imam Bonjol di Dompet Kami Lagi"

Memilih sosok yang bakal tampil dalam lembaran anyar mata uang sukar dielak dari preferensi penguasa dan pendukungnya.

Ini hal biasa meski mungkin hasilnya mengundang tanya dan kecewa. Tafsiran sejarah milik siapa yang berkuasa kiranya berlaku dalam soal pahlawan yang mau ditampilkan.




Memilihnya mungkin dislogani patriotisme dan proporsionalitas atas nama daerah ataupun suku. Ini pun bertali erat dengan selera penguasa. Repotnya kalau penguasa awam sejarah maka yang bermain dominan adalah sejarawan di sekelilingnya. Mereka manfaatkan momentum buat menafsirkan narasi sampai mentransformasi isi pikiran yang selama ini dihambat rezim sebelumnya.

Bagi saya tak kaget melihat hasil FGD para akademisi dan di antaranya sejarawan dalam memilih sosok di mata uang baru kita. Paderi dengan Imam Bonjol adalah momen tepat dienyah. Tokoh “kami” pun diseliwerkan untuk dikenalkan publik seolah tak ada wakil lain. Nama-nama yang asing memang bukan alasan menolak. Hanya saja, pola pemilahan dan pemilihan selektif itu sukar diarahkan sebagai keputusan “bijak dan tanpa tendensi hati”. Ada kerja-kerja ideologi dalam proses seleksi. Asas kesetaraan dan perwakilan, karenanya semata jadi jargon menutup alasan lain.
Pahlawan di lembaran mata uang, sekali lagi, imajinasi politik kekuasaan terutama yang dibangun para cendekia di sekitar presiden. Ini hak mereka. Tinggal bagaimana kita, umat ini, jernih dan cerdas membaca “permainan” tetanda dengan arus utama bahasa indah: bhineka, persatuan, dan proporsi daerah.

Selamat tinggal Imam Bonjol. Elan vital gerakanmu tak bakal dapat tempat pada era sekarang. Karena mereka sejak lama ingin kau dihapus dari daftar pahlawan. Karena kau tak lain oleh mereka dianggap simbol kekerasan, alias inspirasi penyebaran wahabi pada masa sekarang oleh sebagian kalangan. Sebuah tafsir yang sebetulnya bisa dibincang bijak lebih jauh tanpa bias politik.

Karena sudah diputuskan penguasa, semoga politik pengenangan pahlawan terpilih lewat lembaran uang jadi renungan umat Islam. Silap dan abai menerawang calon penguasa beginilah jadinya. Ia akan dikerumuni kalangan yang semena-mena Menafikan tokoh umat. Bukan penguasanya salah memang. Hanya lemahnya ia jadi pintu masuk gerombolan sejarawan dan akademisi menjalankan politik pengetahuan. Hal lazim dan jamak sayangnya umat abai lagi atas praktik ini. 

Yusuf Maulana [islampos]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Memilih sosok yang bakal tampil dalam lembaran anyar mata uang sukar dielak dari preferensi penguasa dan pendukungnya.

Ini hal biasa meski mungkin hasilnya mengundang tanya dan kecewa. Tafsiran sejarah milik siapa yang berkuasa kiranya berlaku dalam soal pahlawan yang mau ditampilkan.




Memilihnya mungkin dislogani patriotisme dan proporsionalitas atas nama daerah ataupun suku. Ini pun bertali erat dengan selera penguasa. Repotnya kalau penguasa awam sejarah maka yang bermain dominan adalah sejarawan di sekelilingnya. Mereka manfaatkan momentum buat menafsirkan narasi sampai mentransformasi isi pikiran yang selama ini dihambat rezim sebelumnya.

Bagi saya tak kaget melihat hasil FGD para akademisi dan di antaranya sejarawan dalam memilih sosok di mata uang baru kita. Paderi dengan Imam Bonjol adalah momen tepat dienyah. Tokoh “kami” pun diseliwerkan untuk dikenalkan publik seolah tak ada wakil lain. Nama-nama yang asing memang bukan alasan menolak. Hanya saja, pola pemilahan dan pemilihan selektif itu sukar diarahkan sebagai keputusan “bijak dan tanpa tendensi hati”. Ada kerja-kerja ideologi dalam proses seleksi. Asas kesetaraan dan perwakilan, karenanya semata jadi jargon menutup alasan lain.
Pahlawan di lembaran mata uang, sekali lagi, imajinasi politik kekuasaan terutama yang dibangun para cendekia di sekitar presiden. Ini hak mereka. Tinggal bagaimana kita, umat ini, jernih dan cerdas membaca “permainan” tetanda dengan arus utama bahasa indah: bhineka, persatuan, dan proporsi daerah.

Selamat tinggal Imam Bonjol. Elan vital gerakanmu tak bakal dapat tempat pada era sekarang. Karena mereka sejak lama ingin kau dihapus dari daftar pahlawan. Karena kau tak lain oleh mereka dianggap simbol kekerasan, alias inspirasi penyebaran wahabi pada masa sekarang oleh sebagian kalangan. Sebuah tafsir yang sebetulnya bisa dibincang bijak lebih jauh tanpa bias politik.

Karena sudah diputuskan penguasa, semoga politik pengenangan pahlawan terpilih lewat lembaran uang jadi renungan umat Islam. Silap dan abai menerawang calon penguasa beginilah jadinya. Ia akan dikerumuni kalangan yang semena-mena Menafikan tokoh umat. Bukan penguasanya salah memang. Hanya lemahnya ia jadi pintu masuk gerombolan sejarawan dan akademisi menjalankan politik pengetahuan. Hal lazim dan jamak sayangnya umat abai lagi atas praktik ini. 

Yusuf Maulana [islampos]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

JONRU GINTING : Kok toleransi seperti itu, sih ?




Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.
Kok toleransi seperti itu, sih?

Toleransi kan seharusnya SALING menghormati.

Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.
Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan?

Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.
Kok toleransi seperti itu, sih?

Toleransi kan seharusnya SALING menghormati.

Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.
Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan?

Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Senin, 19 Desember 2016

Arogansi SARI ROTI itu Kini Membawa Petaka - "THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"


 Arogansi itu mulai membawa petaka. Dari mengaku rotinya hanya dikonsumsi kelas menangah atas, kini roti-roti tak laku di perkotaan harus dijajakan di jalan-jalan. Menumpuk di rak-rak toko tak laku, lalu kembali masuk gudang karena expired.

Promosi diskon harga hingga pasang papan reklame besar di jalan-jalan. Namun sepertinya tak bisa menolong akibat kesombongan.

Inilah...

"THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"

One upon a time in the east,

Pada suatu masa di negeri timur nan jauh, lahirlah seorang putri yg terbuat dari gandum, Sari Roti namanya.

Putri Sarot yg telah istimewa sejak kelahirannya ini, tumbuh menjadi putri manis mempesona.
Wajah halusnya berserat indah. Keelokan parasnya membuat kain oles apapun yg terbuat dari strawberry, keju, krim lemak susu, maupun kacang, melekat indah di sepanjang kulitnya yg berpori sempurna.

Tak hanya disukai kaum lelaki, kesederhanaan Putri Sarot yg rela melangkah turun hingga ke pelosok2 negeri nan makmur itu, juga mampu memikat ibu2 dan anak2 yang sebelumnya hanya bisa menelan sesendok demi sesendok beras matang.

Bak bunga istana yg istimewa, Putri Sarot pun tumbuh cepat bersama makin sejahteranya negeri yg dihuninya.


Tak seperti nasib putri2 lain yg kemampuannya terbatas, Putri Sarot yg orang tuanya adalah pemilik Kerajaan Gandum, memiliki segala fasilitas yg dibutuhkan oleh seorang putri raja.

Kerajaan yg tadinya hanya ada di Jababeka, tak perlu waktu puluhan tahun telah merambah wilayah Semarang, Pasuruan, Cibitung dan Cikarang. Bahkan wilayah2 baru pun ditaklukkan melalui perluasan pengaruh produksinya. Putri Sarot menggotong mesin2 canggih dan meluaskan kerajaannya hingga ke kota besar di Nusa2 lain di seberang lautan, Medan dan Makassar.

Pendeknya kepopuleran Putri Sarot telah mengalahkan pamor para Putri Gandum lainnya.

Namun bak kisah pepatah lama, dimana kesombongan tupai yg gemar melompat2




“Br dpt info dr karyawan Giant Jatimakmur, skrg Sari Roti ga laku…hr ini sdh 3 trolly ga laku, besok tgl expired nya…..kmrn sdh ada 5 trolly yg expired” … tulisnya



di pucuk pepohonan pun akhirnya jatuh, rupanya nasib sama juga menghinggapi keluarga Putri Sarot.

Persis seperti kisah seekor tupai yg sembrono dan membuatnya terjerembab, begitu juga nasib yg dialami Keluarga Putri Sarot.

Aahh... Kisah itu terlalu pedih untuk diceritakan oleh keluarga Sang Putri....

Kejatuhan itu tak boleh luas diketahui, meski rakyat di kerajaan itu telah paham apa yg terjadi.

Keluarga Putri Sarot memilih bungkam. Tapi usahanya kini yg terengah-engah dalam menata kembali kerajaan dan menyelamatkan Putri mereka yg sakit tak berdaya, telah diketahui dimana2.

Putri elok yg tadinya dimaui oleh rakyat jelata itu, kini teronggok menumpuk di sudut-sudut kembara.

Sabtu dan Minggu yg biasanya ia ramah menyambangi rumah2 warga, kini mereka menutup rapat2 pintu rumahnya.

Satu dua sahabat putri masih ada yg mengundang ia bertandang ke rumah mereka, tapi itupun setelah Keluarga Putri Sarot menawar2 kan dirinya lebih murah, atau mengajak gratis si strawberry, pandan dan kacang untuk gratis ikut bersamanya.

*Menulis sambil menikmati sepiring Cireng pedas, yg tak berpori indah tapi renyah memikat lidah.
Dan hanya bisa menghela napas memandangi tumpukan kontainer Putri Sarot yg teronggok sunyi.
Sesekali ada yg bertanya2 dengan sadis 'Apakah mereka semua gratis'? Dan setelah dijawab bahwa hanya olesan selai yg gratis, maka meja olesan itu kembali sepi.

Di sudut lain, tumpukan aneka jenis roti manis berpori indah itu tertidur pulas di rak2 dingin yg menghuni pojok nan sepi.

(by Agi Betha)



Sumber: fb





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


 Arogansi itu mulai membawa petaka. Dari mengaku rotinya hanya dikonsumsi kelas menangah atas, kini roti-roti tak laku di perkotaan harus dijajakan di jalan-jalan. Menumpuk di rak-rak toko tak laku, lalu kembali masuk gudang karena expired.

Promosi diskon harga hingga pasang papan reklame besar di jalan-jalan. Namun sepertinya tak bisa menolong akibat kesombongan.

Inilah...

"THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"

One upon a time in the east,

Pada suatu masa di negeri timur nan jauh, lahirlah seorang putri yg terbuat dari gandum, Sari Roti namanya.

Putri Sarot yg telah istimewa sejak kelahirannya ini, tumbuh menjadi putri manis mempesona.
Wajah halusnya berserat indah. Keelokan parasnya membuat kain oles apapun yg terbuat dari strawberry, keju, krim lemak susu, maupun kacang, melekat indah di sepanjang kulitnya yg berpori sempurna.

Tak hanya disukai kaum lelaki, kesederhanaan Putri Sarot yg rela melangkah turun hingga ke pelosok2 negeri nan makmur itu, juga mampu memikat ibu2 dan anak2 yang sebelumnya hanya bisa menelan sesendok demi sesendok beras matang.

Bak bunga istana yg istimewa, Putri Sarot pun tumbuh cepat bersama makin sejahteranya negeri yg dihuninya.


Tak seperti nasib putri2 lain yg kemampuannya terbatas, Putri Sarot yg orang tuanya adalah pemilik Kerajaan Gandum, memiliki segala fasilitas yg dibutuhkan oleh seorang putri raja.

Kerajaan yg tadinya hanya ada di Jababeka, tak perlu waktu puluhan tahun telah merambah wilayah Semarang, Pasuruan, Cibitung dan Cikarang. Bahkan wilayah2 baru pun ditaklukkan melalui perluasan pengaruh produksinya. Putri Sarot menggotong mesin2 canggih dan meluaskan kerajaannya hingga ke kota besar di Nusa2 lain di seberang lautan, Medan dan Makassar.

Pendeknya kepopuleran Putri Sarot telah mengalahkan pamor para Putri Gandum lainnya.

Namun bak kisah pepatah lama, dimana kesombongan tupai yg gemar melompat2




“Br dpt info dr karyawan Giant Jatimakmur, skrg Sari Roti ga laku…hr ini sdh 3 trolly ga laku, besok tgl expired nya…..kmrn sdh ada 5 trolly yg expired” … tulisnya



di pucuk pepohonan pun akhirnya jatuh, rupanya nasib sama juga menghinggapi keluarga Putri Sarot.

Persis seperti kisah seekor tupai yg sembrono dan membuatnya terjerembab, begitu juga nasib yg dialami Keluarga Putri Sarot.

Aahh... Kisah itu terlalu pedih untuk diceritakan oleh keluarga Sang Putri....

Kejatuhan itu tak boleh luas diketahui, meski rakyat di kerajaan itu telah paham apa yg terjadi.

Keluarga Putri Sarot memilih bungkam. Tapi usahanya kini yg terengah-engah dalam menata kembali kerajaan dan menyelamatkan Putri mereka yg sakit tak berdaya, telah diketahui dimana2.

Putri elok yg tadinya dimaui oleh rakyat jelata itu, kini teronggok menumpuk di sudut-sudut kembara.

Sabtu dan Minggu yg biasanya ia ramah menyambangi rumah2 warga, kini mereka menutup rapat2 pintu rumahnya.

Satu dua sahabat putri masih ada yg mengundang ia bertandang ke rumah mereka, tapi itupun setelah Keluarga Putri Sarot menawar2 kan dirinya lebih murah, atau mengajak gratis si strawberry, pandan dan kacang untuk gratis ikut bersamanya.

*Menulis sambil menikmati sepiring Cireng pedas, yg tak berpori indah tapi renyah memikat lidah.
Dan hanya bisa menghela napas memandangi tumpukan kontainer Putri Sarot yg teronggok sunyi.
Sesekali ada yg bertanya2 dengan sadis 'Apakah mereka semua gratis'? Dan setelah dijawab bahwa hanya olesan selai yg gratis, maka meja olesan itu kembali sepi.

Di sudut lain, tumpukan aneka jenis roti manis berpori indah itu tertidur pulas di rak2 dingin yg menghuni pojok nan sepi.

(by Agi Betha)



Sumber: fb





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ketika Siswa SD Pesta Miras, Salah Siapa?



Oleh: Lavia Sri Dayanti
laviasridayanti@gmail.com

MIRIS. Kata petama yang terucap jika melihat kondisi anak bangsa saat ini. Generasi yang akan memimpin bangsa satu hari nanti. Terlihat pada kasus 5 siswa SD di Samarinda yang meminum miras di kelas.

Sontak kasus ini mengagetkan khalayak ramai. Bagaimana tidak, kelima siswa tersebut melakukannya saat jam pelajaran, ketika guru sedang lengah memperhatikan murid-muridnya. Miras yang dikonsumsi adalah jenis anggur dan oplosan alkohhol 70 persen serta minuman berenergi, sesekali dicampurkan dengan obat sakit kepala.

Mereka memasukan mirasnya ke dalam botol agar tidak ketahuan guru dan teman-teman. Salah satu dari kelima anak tersebut mengaku mendapatkan minuman keras dari warung kelontong dekat sekolah. Akibatnya, saat ditegur oleh guru karena kerap berulah, mereka berani menantang guru untuk berkelahi.

Saat dipanggil ke kantor polisi, salah satu wali mereka menangis histeris tidak menyangka buah hatinya melakukan hal tersebut, karena di rumah terlihat patuh dan tidak suka berulah.



Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada anak-anak tersebut. Mengingat mudahnya cara mereka memeperoleh barang haram itu, kemudian kuatnya contoh konsumsi miras ditengah masyarakat yang rusak. Demikian juga pada keluarga, keluarga memang harus menjaga anak-anaknya dari miras dan hal buruk lainya. Tetapi saat anak keluar dari lingkungan rumah, tidak ada yang bisa menjamin karakter yang telah terbentuk dalam keluarga masih terjaga.

Semua ini adalah buah dari sistem liberal, pemerintah tidak memiliki regulasi tegas untuk menutup pintu produksi dan peredaran miras. Seakan-akan negara berlepas tangan untuk membentuk karakter generasi dan menyerahkan sepenuhnya pada setiap keluarga dalam sistem yang rusak ini.

Maka solusinya tidak cukup pada pembinaan dalam keluarga, tetapi harus mengganti sistem dengan sistem Islam. Karena dalam Islam, negara adalah penjaga generasi bangsa. Negara akan menutup segala bentuk peredaran miras, dan menyiapkan hukuman yang memunculkan efek jera bagi para pelanggar. []

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Oleh: Lavia Sri Dayanti
laviasridayanti@gmail.com

MIRIS. Kata petama yang terucap jika melihat kondisi anak bangsa saat ini. Generasi yang akan memimpin bangsa satu hari nanti. Terlihat pada kasus 5 siswa SD di Samarinda yang meminum miras di kelas.

Sontak kasus ini mengagetkan khalayak ramai. Bagaimana tidak, kelima siswa tersebut melakukannya saat jam pelajaran, ketika guru sedang lengah memperhatikan murid-muridnya. Miras yang dikonsumsi adalah jenis anggur dan oplosan alkohhol 70 persen serta minuman berenergi, sesekali dicampurkan dengan obat sakit kepala.

Mereka memasukan mirasnya ke dalam botol agar tidak ketahuan guru dan teman-teman. Salah satu dari kelima anak tersebut mengaku mendapatkan minuman keras dari warung kelontong dekat sekolah. Akibatnya, saat ditegur oleh guru karena kerap berulah, mereka berani menantang guru untuk berkelahi.

Saat dipanggil ke kantor polisi, salah satu wali mereka menangis histeris tidak menyangka buah hatinya melakukan hal tersebut, karena di rumah terlihat patuh dan tidak suka berulah.



Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada anak-anak tersebut. Mengingat mudahnya cara mereka memeperoleh barang haram itu, kemudian kuatnya contoh konsumsi miras ditengah masyarakat yang rusak. Demikian juga pada keluarga, keluarga memang harus menjaga anak-anaknya dari miras dan hal buruk lainya. Tetapi saat anak keluar dari lingkungan rumah, tidak ada yang bisa menjamin karakter yang telah terbentuk dalam keluarga masih terjaga.

Semua ini adalah buah dari sistem liberal, pemerintah tidak memiliki regulasi tegas untuk menutup pintu produksi dan peredaran miras. Seakan-akan negara berlepas tangan untuk membentuk karakter generasi dan menyerahkan sepenuhnya pada setiap keluarga dalam sistem yang rusak ini.

Maka solusinya tidak cukup pada pembinaan dalam keluarga, tetapi harus mengganti sistem dengan sistem Islam. Karena dalam Islam, negara adalah penjaga generasi bangsa. Negara akan menutup segala bentuk peredaran miras, dan menyiapkan hukuman yang memunculkan efek jera bagi para pelanggar. []

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Merinding! Artis Cantik Ini Berani Kritik Jokowi yang ke Iran dan Muslim yang Dukung Ahok



Krisis yang terjadi di Aleppo, Suriah seharusnya membuat pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi peka. Kepekaan harus dibuktikan dengan ucapan keprihatinan atau yang lebih bagus lagi mengirimkan bantuan ke negara yang sedang bergejolak itu. Sayangnya, Jokowi tidak melakukan tindakan apa-apa, membuat muslim manapun kesal.

Kekesalan itu pula yang dirasakan oleh artis cantik Ratna Galih. Bintang film televisi yang kini berhijab itu kesal melihat pemerintah Indonesia malah memperkuat hubungan bilateral dengan negara syiah Iran.

"Indonesia malah memperkuat kerjasama dengan Iran?  Gue doang atau yang lain kesel juga nggak sih? Orang-orang Islam sadar nggak ini udah pertanda akhir zaman?" kata Ratna Galih, Ahad (18/12/2016) melalui laman jejaring sosialnya.

Ratna, demikian ia akrab siapa, menyebut fitnah luar biasa di Negeri Syam, sungai Eufrat kering, dan pemimpin Islam mulai bersatu. 

"Lah kok Indonesia yang notabenenya penduduk Islam terbanyak malah sibuk memperkuat kerjasama sama Iran, Cina?" heran Ratna.



Lebih sedih lagi, kata dia, umat Islam sendiri yang di Indonesia malah terpecah belah suaranya karena sebagian pilih bela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Yang bela Ahok dibilang cinta NKRI, yang menolak Ahok di bilang ekstrem atau dicuci otak atau menolak Pancasila? Kalau umat menolak pancasila mana bisa umat agama lain hidup tenang puluhan tahun di negara kita tanpa teraniaya?" kata dia.

Ratna merasa Indonesia memang sudah dijajah dari segala bidang. "Masih kurang bukti lagi kalau Indonesia udah dijajah secara ekonomi dan ideologi? Coba lihat tambang-tambang mineral Indonesia, pabrik-pabrik besar di Indonesia, apa nggak banyak tenaga kerja ilegal dari Cina dan kita diem aja bahkan nggak tahu?" cetusnya.

Bukti-bukti penjajahan itu membuat Ratna kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya. Ia tidak takut dibilang aneh-aneh dengan mengeluarkan kegelisahan hatinya.

"Udah nggak bisa bilang apa-apa lagi. Mungkin dengan posting beginian bakal dibilang juga aneh-aneh, biarkanlah yang penting usaha.. dan jangan bilang kalau saya anti selain orang Islam. Banyak sahabat saya non muslim tapi saya sayang mereka karena kita saling toleransi dan menghargai," ujar artis yang fashionable itu.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Krisis yang terjadi di Aleppo, Suriah seharusnya membuat pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi peka. Kepekaan harus dibuktikan dengan ucapan keprihatinan atau yang lebih bagus lagi mengirimkan bantuan ke negara yang sedang bergejolak itu. Sayangnya, Jokowi tidak melakukan tindakan apa-apa, membuat muslim manapun kesal.

Kekesalan itu pula yang dirasakan oleh artis cantik Ratna Galih. Bintang film televisi yang kini berhijab itu kesal melihat pemerintah Indonesia malah memperkuat hubungan bilateral dengan negara syiah Iran.

"Indonesia malah memperkuat kerjasama dengan Iran?  Gue doang atau yang lain kesel juga nggak sih? Orang-orang Islam sadar nggak ini udah pertanda akhir zaman?" kata Ratna Galih, Ahad (18/12/2016) melalui laman jejaring sosialnya.

Ratna, demikian ia akrab siapa, menyebut fitnah luar biasa di Negeri Syam, sungai Eufrat kering, dan pemimpin Islam mulai bersatu. 

"Lah kok Indonesia yang notabenenya penduduk Islam terbanyak malah sibuk memperkuat kerjasama sama Iran, Cina?" heran Ratna.



Lebih sedih lagi, kata dia, umat Islam sendiri yang di Indonesia malah terpecah belah suaranya karena sebagian pilih bela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Yang bela Ahok dibilang cinta NKRI, yang menolak Ahok di bilang ekstrem atau dicuci otak atau menolak Pancasila? Kalau umat menolak pancasila mana bisa umat agama lain hidup tenang puluhan tahun di negara kita tanpa teraniaya?" kata dia.

Ratna merasa Indonesia memang sudah dijajah dari segala bidang. "Masih kurang bukti lagi kalau Indonesia udah dijajah secara ekonomi dan ideologi? Coba lihat tambang-tambang mineral Indonesia, pabrik-pabrik besar di Indonesia, apa nggak banyak tenaga kerja ilegal dari Cina dan kita diem aja bahkan nggak tahu?" cetusnya.

Bukti-bukti penjajahan itu membuat Ratna kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya. Ia tidak takut dibilang aneh-aneh dengan mengeluarkan kegelisahan hatinya.

"Udah nggak bisa bilang apa-apa lagi. Mungkin dengan posting beginian bakal dibilang juga aneh-aneh, biarkanlah yang penting usaha.. dan jangan bilang kalau saya anti selain orang Islam. Banyak sahabat saya non muslim tapi saya sayang mereka karena kita saling toleransi dan menghargai," ujar artis yang fashionable itu.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !