Tampilkan postingan dengan label Populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Populer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Hukum Suami Mengungkit Semua Nafkahnya Kepada Istri






Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.

Dari: Fajar

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”

أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)



Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,

Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib. Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah dia berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.

Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?

Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !






Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.

Dari: Fajar

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”

أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)



Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,

Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib. Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah dia berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.

Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?

Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Benarkah Bapak Dari Seluruh Manusia ada Tiga ?




Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:
Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”



Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).
 
Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:
Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”



Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).
 
Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Kisah Cinta Dibalik Lahirnya Salahuddin Alayyubi, Sang Pembebas Baitul Maqdis


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Malaikat Malik, Heran dengan Para Penghuni Neraka Ini



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2e2d3NAAVYOOJK2lVYmhcfKG-uv_H_yINSqv068N0-LI83hmSlca0-yPdnTDv6BAyHKg-k_CkYofMYCGWsdQukwJfka5mb6j8-vLWzThgGvVwfKBhg0KeNPLx7fyZY8ORKDPq0nXqPw0/s320/neraka.jpg

ORANG yang berdosa tentu akan masuk neraka. Ya hal itu sudah pasti kita ketahui. Dan di dunia ini ada dua jenis manusia yang berdosa. Yakni, manusia yang memang benar-benar berdosa, seperti kaum kafir. Ada pula yang berdosa, tetapi sebenarnya ia beriman, yakni mengakui bahwa Allah itu Tuhannya. Lantas, seperti apa orang-orang berdosa ini digiring ke neraka?

Manusia yang menjadi musuh Allah digiring ke neraka. Wajah mereka hitam pekat, matanya melotot, mulutnya dikunci. Tatkala mereka sampai di pintu neraka, mereka disambut oleh Zabaniyah dengan membawa belenggu dan rantai. Rantai itu diletakkan di mulut orang kafir lalu dikeluarkan dari duburnya. Tangan kirinna dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dadanya, lalu dicabut dari antara kedua bahunya. Mereka diikat dengan rantai yang digandengkan dengan setan dalam satu rantai. Selanjutnya mereka diseret dengan wajahnya. Mereka terus dipukuli oleh malaikat dengan gada besi (sejenis palu).

Ketika orang kafir hendak keluar dari neraka, maka para malaikat mengembalikan mereka ke neraka. Lalu, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka ini yang dulu pernah kamu dustakan.”



Fatimah RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya tentang umatmu?” Beliau menjawab, “Para malaikat itu menggiring umatku ke neraka dengan wajahnya tetap putih (tidak hitam), maka mereka tidak melotot, mulut mereka tidak terkunci, mereka juga tidak digandengkan dengan setan, rantai dan belenggunya tidak diletakkan di atas mereka.”

Fatimah lantas bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menuntun umat?” Beliau menjawab, “Adapun orangtua dan anak muda, maka keduanya dipegang dengan jenggotnya. Sedangkan perempuan akan dipegang gulungan rambutnya dan ubun-ubunnya, maka banyak orang yang beruban dari umatku yang dicabut ubannya lalu dituntun ke neraka. Ia terus menjerit-jerit, ‘Aduh… masa mudaku, aduh… kelemahanku.’ Banyak dari kalangan umatku yang ditarik jenggotnya kemudian dituntun ke neraka, mereka menjerit-jerit, ‘Aduh… rasa maluku, aduh… kerusakan tutupku.’ Sehingga, umatku itu sampai di tempat malaikat Malik.”

Ketika malaikat Malik melihat mereka, ia bertanya kepada malaikat yang membawa umatku, “Siapa mereka, aku belum pernah melihat orang celaka yang sangat mengherankan ini, wajah mereka tidak hitam, sedangkan letak rantai dan belenggu di lehernya?” Malaikat yang membawa menjawab, “Kami diperintahkan mendatangkan mereka dalam keadaan seperti ini.” Malaikat Malik lalu bertanya kepada mereka, “Wahai orang yang celaka, siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Muhammad ﷺ.”



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2e2d3NAAVYOOJK2lVYmhcfKG-uv_H_yINSqv068N0-LI83hmSlca0-yPdnTDv6BAyHKg-k_CkYofMYCGWsdQukwJfka5mb6j8-vLWzThgGvVwfKBhg0KeNPLx7fyZY8ORKDPq0nXqPw0/s320/neraka.jpg

ORANG yang berdosa tentu akan masuk neraka. Ya hal itu sudah pasti kita ketahui. Dan di dunia ini ada dua jenis manusia yang berdosa. Yakni, manusia yang memang benar-benar berdosa, seperti kaum kafir. Ada pula yang berdosa, tetapi sebenarnya ia beriman, yakni mengakui bahwa Allah itu Tuhannya. Lantas, seperti apa orang-orang berdosa ini digiring ke neraka?

Manusia yang menjadi musuh Allah digiring ke neraka. Wajah mereka hitam pekat, matanya melotot, mulutnya dikunci. Tatkala mereka sampai di pintu neraka, mereka disambut oleh Zabaniyah dengan membawa belenggu dan rantai. Rantai itu diletakkan di mulut orang kafir lalu dikeluarkan dari duburnya. Tangan kirinna dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dadanya, lalu dicabut dari antara kedua bahunya. Mereka diikat dengan rantai yang digandengkan dengan setan dalam satu rantai. Selanjutnya mereka diseret dengan wajahnya. Mereka terus dipukuli oleh malaikat dengan gada besi (sejenis palu).

Ketika orang kafir hendak keluar dari neraka, maka para malaikat mengembalikan mereka ke neraka. Lalu, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka ini yang dulu pernah kamu dustakan.”



Fatimah RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya tentang umatmu?” Beliau menjawab, “Para malaikat itu menggiring umatku ke neraka dengan wajahnya tetap putih (tidak hitam), maka mereka tidak melotot, mulut mereka tidak terkunci, mereka juga tidak digandengkan dengan setan, rantai dan belenggunya tidak diletakkan di atas mereka.”

Fatimah lantas bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menuntun umat?” Beliau menjawab, “Adapun orangtua dan anak muda, maka keduanya dipegang dengan jenggotnya. Sedangkan perempuan akan dipegang gulungan rambutnya dan ubun-ubunnya, maka banyak orang yang beruban dari umatku yang dicabut ubannya lalu dituntun ke neraka. Ia terus menjerit-jerit, ‘Aduh… masa mudaku, aduh… kelemahanku.’ Banyak dari kalangan umatku yang ditarik jenggotnya kemudian dituntun ke neraka, mereka menjerit-jerit, ‘Aduh… rasa maluku, aduh… kerusakan tutupku.’ Sehingga, umatku itu sampai di tempat malaikat Malik.”

Ketika malaikat Malik melihat mereka, ia bertanya kepada malaikat yang membawa umatku, “Siapa mereka, aku belum pernah melihat orang celaka yang sangat mengherankan ini, wajah mereka tidak hitam, sedangkan letak rantai dan belenggu di lehernya?” Malaikat yang membawa menjawab, “Kami diperintahkan mendatangkan mereka dalam keadaan seperti ini.” Malaikat Malik lalu bertanya kepada mereka, “Wahai orang yang celaka, siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Muhammad ﷺ.”



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUDAHKAH Anda Bertobat dari Nyinyirin Fatwa MUI? Ini Cerita Tobatnya Tere Liye




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ada Poster “Umat Islam Dukung Ahok”, Ibu Ini Heroik Terobos Massa Pendukung Ahok

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

BENARKAH ? Uang Pecahan Baru Tak Dicetak oleh Peruri, Melainkan Pengusaha Keturunan China


Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyebutkan uang pecahan baru Tahun Emisi (2016) yang telah diluncurkan secara resmi Senin (19/12) kemarin dicetak di dalam negeri. Sebagian bahan baku uang tersebut berasal dari impor melalui beberapa negara dan beberapa perusahaan tender.

Namun Agus enggan menyebutkan siapa pihak perusahaan yang melakukan pencetakan uang, meskipun terdengar kabar bahwa uang tersebut tidak dicetak oleh Prum Peruri, melainkan oleh pihak swasta yang berada di Kota Kuduus Jawa Tengah. Agus mengklaim proses tender tersebut dilakukan secara profesional dan dimenangkan oleh perusahaan secara governance-nya berkategori sangat baik.
“Kalau bahan baku, ada dari impor dan ada dari nasional. Tetapi pencetakannya sepenuhnya di negara Indonesia. Tentu bahan baku ada beberapa sumber dari beberapa negara. Dan itu dilakukan dengan cara tender internasional yang governance-nya baik. Saya tidak bisa sebutkan asal negaranya,” kata Agus di Jakarta, Selasa (20/12).

Selanjutnya Agus menyatakan Bank Indonesia sangat memiliki kesiapan mendistribusikan uang baru tersebut ke seluruh penjuru Indonesia, diperkirakan dalam waktu 3 bulan, uang tersebut telah tersebar secara merata. Namun untuk persoalan jumlah dana yang disebar, ia merasa hal itu bagian dari kerahasiaan Bank Indonesia.

“Kita suda siap mengedarkannya melalui Bank Indonesia di 33 proviinsi dan kita mempersiapkan yang lengkap dari uang Rp100 ribu hingga ke pecahan uang logam. Jumlahnya kami tidak bisa sebutkan tapi kami kira dalam jumlah yang cukup,” tandas Agus.

Informasi yang diterima Aktual.com dan masih dalam penelusuran, bahwa uang tersebut tidak dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), namun melainkan dicetak di Perusahaan milik Swasta di Kota Kudus, Jawa Tengah. (akt) 






Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyebutkan uang pecahan baru Tahun Emisi (2016) yang telah diluncurkan secara resmi Senin (19/12) kemarin dicetak di dalam negeri. Sebagian bahan baku uang tersebut berasal dari impor melalui beberapa negara dan beberapa perusahaan tender.

Namun Agus enggan menyebutkan siapa pihak perusahaan yang melakukan pencetakan uang, meskipun terdengar kabar bahwa uang tersebut tidak dicetak oleh Prum Peruri, melainkan oleh pihak swasta yang berada di Kota Kuduus Jawa Tengah. Agus mengklaim proses tender tersebut dilakukan secara profesional dan dimenangkan oleh perusahaan secara governance-nya berkategori sangat baik.
“Kalau bahan baku, ada dari impor dan ada dari nasional. Tetapi pencetakannya sepenuhnya di negara Indonesia. Tentu bahan baku ada beberapa sumber dari beberapa negara. Dan itu dilakukan dengan cara tender internasional yang governance-nya baik. Saya tidak bisa sebutkan asal negaranya,” kata Agus di Jakarta, Selasa (20/12).

Selanjutnya Agus menyatakan Bank Indonesia sangat memiliki kesiapan mendistribusikan uang baru tersebut ke seluruh penjuru Indonesia, diperkirakan dalam waktu 3 bulan, uang tersebut telah tersebar secara merata. Namun untuk persoalan jumlah dana yang disebar, ia merasa hal itu bagian dari kerahasiaan Bank Indonesia.

“Kita suda siap mengedarkannya melalui Bank Indonesia di 33 proviinsi dan kita mempersiapkan yang lengkap dari uang Rp100 ribu hingga ke pecahan uang logam. Jumlahnya kami tidak bisa sebutkan tapi kami kira dalam jumlah yang cukup,” tandas Agus.

Informasi yang diterima Aktual.com dan masih dalam penelusuran, bahwa uang tersebut tidak dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), namun melainkan dicetak di Perusahaan milik Swasta di Kota Kudus, Jawa Tengah. (akt) 






Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Dominasi Pahlawan Non Muslim Dimata Uang RI Yang Baru, BENARKAH ?


Pemerintah saat ini nampaknya kurang menghargai keberadaan pahlawan Islam di tanah air. Pangeran Diponegoro pejuang Islam yang melegenda di tanah air, yang mengobarkan perang di Jawa melawan Belanda dihilangkan dalam mata uang 5000 rupiah. Diponegoro diganti dengan KH Idham Chalid, yang ketokohannya jauh di bawah Diponegoro. 

Sementara itu, gambar Soekarno Hatta tetap dipampang di gambar mata uang 100.000 rupiah. Entah apa maksudnya pemerintah mengganti gambar Diponegoro dan membiarkan terpampang gambar Soekarno-Hatta.

Selain itu, pada gambar uang 1000 rupiah, pahlawan Islam Pattimura juga diganti dengan I Gusti Ketut Puja tokoh Hindu Bali. I Gusti adalah bekas gubernur Bali dan tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga gambar mata uang 10.000 rupiah. Bila mata uang lama bergambar pahlawan Islam Tjut Nyak Din kemudian berubah menjadi Sultan Mahmud Badaruddin, kini mata uang ini bergambar tokoh Kristen Irian Frans Kaisiepo. Tokoh ini salah satu orang yang memperjuangkan Irian masuk ke Indonesia dan juga mantan gubernur Irian.

Uang pecahan logam 100 rupiah yang tadinya bergambar burung yang indah, juga diganti dengan tokoh Kristen Herman Johannes. Tokoh ini adalah pahlawan nasional dan mantan rektor UGM. Begitu pula uang pecahan 500 rupiah. Yang tadinya bergambar bunga melati diganti dengan pahlawan nasional beragama Kristen TB Simatupang.

Dalam pergantian gambar mata uang kemarin (19/12), nampaknya pemerintah Jokowi lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh non Islam dari pada tokoh Islam. Entah siapa yang merancang ini semua. Ya jelas nampak sekarang pahlawan-pahlawan Islam mulai disingkirkan dalam gambar mata uang di tanah air. 

Ibnu Dachli
Warga Depok, Jawa  Barat 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Pemerintah saat ini nampaknya kurang menghargai keberadaan pahlawan Islam di tanah air. Pangeran Diponegoro pejuang Islam yang melegenda di tanah air, yang mengobarkan perang di Jawa melawan Belanda dihilangkan dalam mata uang 5000 rupiah. Diponegoro diganti dengan KH Idham Chalid, yang ketokohannya jauh di bawah Diponegoro. 

Sementara itu, gambar Soekarno Hatta tetap dipampang di gambar mata uang 100.000 rupiah. Entah apa maksudnya pemerintah mengganti gambar Diponegoro dan membiarkan terpampang gambar Soekarno-Hatta.

Selain itu, pada gambar uang 1000 rupiah, pahlawan Islam Pattimura juga diganti dengan I Gusti Ketut Puja tokoh Hindu Bali. I Gusti adalah bekas gubernur Bali dan tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga gambar mata uang 10.000 rupiah. Bila mata uang lama bergambar pahlawan Islam Tjut Nyak Din kemudian berubah menjadi Sultan Mahmud Badaruddin, kini mata uang ini bergambar tokoh Kristen Irian Frans Kaisiepo. Tokoh ini salah satu orang yang memperjuangkan Irian masuk ke Indonesia dan juga mantan gubernur Irian.

Uang pecahan logam 100 rupiah yang tadinya bergambar burung yang indah, juga diganti dengan tokoh Kristen Herman Johannes. Tokoh ini adalah pahlawan nasional dan mantan rektor UGM. Begitu pula uang pecahan 500 rupiah. Yang tadinya bergambar bunga melati diganti dengan pahlawan nasional beragama Kristen TB Simatupang.

Dalam pergantian gambar mata uang kemarin (19/12), nampaknya pemerintah Jokowi lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh non Islam dari pada tokoh Islam. Entah siapa yang merancang ini semua. Ya jelas nampak sekarang pahlawan-pahlawan Islam mulai disingkirkan dalam gambar mata uang di tanah air. 

Ibnu Dachli
Warga Depok, Jawa  Barat 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

JONRU GINTING : Kok toleransi seperti itu, sih ?




Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.
Kok toleransi seperti itu, sih?

Toleransi kan seharusnya SALING menghormati.

Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.
Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan?

Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.
Kok toleransi seperti itu, sih?

Toleransi kan seharusnya SALING menghormati.

Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.
Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan?

Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Senin, 19 Desember 2016

Arogansi SARI ROTI itu Kini Membawa Petaka - "THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"


 Arogansi itu mulai membawa petaka. Dari mengaku rotinya hanya dikonsumsi kelas menangah atas, kini roti-roti tak laku di perkotaan harus dijajakan di jalan-jalan. Menumpuk di rak-rak toko tak laku, lalu kembali masuk gudang karena expired.

Promosi diskon harga hingga pasang papan reklame besar di jalan-jalan. Namun sepertinya tak bisa menolong akibat kesombongan.

Inilah...

"THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"

One upon a time in the east,

Pada suatu masa di negeri timur nan jauh, lahirlah seorang putri yg terbuat dari gandum, Sari Roti namanya.

Putri Sarot yg telah istimewa sejak kelahirannya ini, tumbuh menjadi putri manis mempesona.
Wajah halusnya berserat indah. Keelokan parasnya membuat kain oles apapun yg terbuat dari strawberry, keju, krim lemak susu, maupun kacang, melekat indah di sepanjang kulitnya yg berpori sempurna.

Tak hanya disukai kaum lelaki, kesederhanaan Putri Sarot yg rela melangkah turun hingga ke pelosok2 negeri nan makmur itu, juga mampu memikat ibu2 dan anak2 yang sebelumnya hanya bisa menelan sesendok demi sesendok beras matang.

Bak bunga istana yg istimewa, Putri Sarot pun tumbuh cepat bersama makin sejahteranya negeri yg dihuninya.


Tak seperti nasib putri2 lain yg kemampuannya terbatas, Putri Sarot yg orang tuanya adalah pemilik Kerajaan Gandum, memiliki segala fasilitas yg dibutuhkan oleh seorang putri raja.

Kerajaan yg tadinya hanya ada di Jababeka, tak perlu waktu puluhan tahun telah merambah wilayah Semarang, Pasuruan, Cibitung dan Cikarang. Bahkan wilayah2 baru pun ditaklukkan melalui perluasan pengaruh produksinya. Putri Sarot menggotong mesin2 canggih dan meluaskan kerajaannya hingga ke kota besar di Nusa2 lain di seberang lautan, Medan dan Makassar.

Pendeknya kepopuleran Putri Sarot telah mengalahkan pamor para Putri Gandum lainnya.

Namun bak kisah pepatah lama, dimana kesombongan tupai yg gemar melompat2




“Br dpt info dr karyawan Giant Jatimakmur, skrg Sari Roti ga laku…hr ini sdh 3 trolly ga laku, besok tgl expired nya…..kmrn sdh ada 5 trolly yg expired” … tulisnya



di pucuk pepohonan pun akhirnya jatuh, rupanya nasib sama juga menghinggapi keluarga Putri Sarot.

Persis seperti kisah seekor tupai yg sembrono dan membuatnya terjerembab, begitu juga nasib yg dialami Keluarga Putri Sarot.

Aahh... Kisah itu terlalu pedih untuk diceritakan oleh keluarga Sang Putri....

Kejatuhan itu tak boleh luas diketahui, meski rakyat di kerajaan itu telah paham apa yg terjadi.

Keluarga Putri Sarot memilih bungkam. Tapi usahanya kini yg terengah-engah dalam menata kembali kerajaan dan menyelamatkan Putri mereka yg sakit tak berdaya, telah diketahui dimana2.

Putri elok yg tadinya dimaui oleh rakyat jelata itu, kini teronggok menumpuk di sudut-sudut kembara.

Sabtu dan Minggu yg biasanya ia ramah menyambangi rumah2 warga, kini mereka menutup rapat2 pintu rumahnya.

Satu dua sahabat putri masih ada yg mengundang ia bertandang ke rumah mereka, tapi itupun setelah Keluarga Putri Sarot menawar2 kan dirinya lebih murah, atau mengajak gratis si strawberry, pandan dan kacang untuk gratis ikut bersamanya.

*Menulis sambil menikmati sepiring Cireng pedas, yg tak berpori indah tapi renyah memikat lidah.
Dan hanya bisa menghela napas memandangi tumpukan kontainer Putri Sarot yg teronggok sunyi.
Sesekali ada yg bertanya2 dengan sadis 'Apakah mereka semua gratis'? Dan setelah dijawab bahwa hanya olesan selai yg gratis, maka meja olesan itu kembali sepi.

Di sudut lain, tumpukan aneka jenis roti manis berpori indah itu tertidur pulas di rak2 dingin yg menghuni pojok nan sepi.

(by Agi Betha)



Sumber: fb





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


 Arogansi itu mulai membawa petaka. Dari mengaku rotinya hanya dikonsumsi kelas menangah atas, kini roti-roti tak laku di perkotaan harus dijajakan di jalan-jalan. Menumpuk di rak-rak toko tak laku, lalu kembali masuk gudang karena expired.

Promosi diskon harga hingga pasang papan reklame besar di jalan-jalan. Namun sepertinya tak bisa menolong akibat kesombongan.

Inilah...

"THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"

One upon a time in the east,

Pada suatu masa di negeri timur nan jauh, lahirlah seorang putri yg terbuat dari gandum, Sari Roti namanya.

Putri Sarot yg telah istimewa sejak kelahirannya ini, tumbuh menjadi putri manis mempesona.
Wajah halusnya berserat indah. Keelokan parasnya membuat kain oles apapun yg terbuat dari strawberry, keju, krim lemak susu, maupun kacang, melekat indah di sepanjang kulitnya yg berpori sempurna.

Tak hanya disukai kaum lelaki, kesederhanaan Putri Sarot yg rela melangkah turun hingga ke pelosok2 negeri nan makmur itu, juga mampu memikat ibu2 dan anak2 yang sebelumnya hanya bisa menelan sesendok demi sesendok beras matang.

Bak bunga istana yg istimewa, Putri Sarot pun tumbuh cepat bersama makin sejahteranya negeri yg dihuninya.


Tak seperti nasib putri2 lain yg kemampuannya terbatas, Putri Sarot yg orang tuanya adalah pemilik Kerajaan Gandum, memiliki segala fasilitas yg dibutuhkan oleh seorang putri raja.

Kerajaan yg tadinya hanya ada di Jababeka, tak perlu waktu puluhan tahun telah merambah wilayah Semarang, Pasuruan, Cibitung dan Cikarang. Bahkan wilayah2 baru pun ditaklukkan melalui perluasan pengaruh produksinya. Putri Sarot menggotong mesin2 canggih dan meluaskan kerajaannya hingga ke kota besar di Nusa2 lain di seberang lautan, Medan dan Makassar.

Pendeknya kepopuleran Putri Sarot telah mengalahkan pamor para Putri Gandum lainnya.

Namun bak kisah pepatah lama, dimana kesombongan tupai yg gemar melompat2




“Br dpt info dr karyawan Giant Jatimakmur, skrg Sari Roti ga laku…hr ini sdh 3 trolly ga laku, besok tgl expired nya…..kmrn sdh ada 5 trolly yg expired” … tulisnya



di pucuk pepohonan pun akhirnya jatuh, rupanya nasib sama juga menghinggapi keluarga Putri Sarot.

Persis seperti kisah seekor tupai yg sembrono dan membuatnya terjerembab, begitu juga nasib yg dialami Keluarga Putri Sarot.

Aahh... Kisah itu terlalu pedih untuk diceritakan oleh keluarga Sang Putri....

Kejatuhan itu tak boleh luas diketahui, meski rakyat di kerajaan itu telah paham apa yg terjadi.

Keluarga Putri Sarot memilih bungkam. Tapi usahanya kini yg terengah-engah dalam menata kembali kerajaan dan menyelamatkan Putri mereka yg sakit tak berdaya, telah diketahui dimana2.

Putri elok yg tadinya dimaui oleh rakyat jelata itu, kini teronggok menumpuk di sudut-sudut kembara.

Sabtu dan Minggu yg biasanya ia ramah menyambangi rumah2 warga, kini mereka menutup rapat2 pintu rumahnya.

Satu dua sahabat putri masih ada yg mengundang ia bertandang ke rumah mereka, tapi itupun setelah Keluarga Putri Sarot menawar2 kan dirinya lebih murah, atau mengajak gratis si strawberry, pandan dan kacang untuk gratis ikut bersamanya.

*Menulis sambil menikmati sepiring Cireng pedas, yg tak berpori indah tapi renyah memikat lidah.
Dan hanya bisa menghela napas memandangi tumpukan kontainer Putri Sarot yg teronggok sunyi.
Sesekali ada yg bertanya2 dengan sadis 'Apakah mereka semua gratis'? Dan setelah dijawab bahwa hanya olesan selai yg gratis, maka meja olesan itu kembali sepi.

Di sudut lain, tumpukan aneka jenis roti manis berpori indah itu tertidur pulas di rak2 dingin yg menghuni pojok nan sepi.

(by Agi Betha)



Sumber: fb





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Peringatan Hari Bela Negara 19 Desember 2016 : Tanpa PDRI tak Ada NKRI

 Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menyatakan bahwa Hari Bela Negara yang jatuh pada Senin kemarin (19/12)  mengandung pesan historis yang penting bagi perjuangan kemerdekaan nasional .Untuk itu pemahaman dan peringatan hari bela negara menjadi penting artinya,

Fadli menjelaskan bahwa momentum ini terkait dengan dibentuknya PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di Sumatera Barat yang diketuai oleh Sjafroeddin Prawiranegara.







"Sesaat sebelum ditangkapnya Soekarno dan Hatta dalam agresi militer Belanda 19 Desember 1949, Soekarno - Hatta telah mengirim radiogram kepada Sjafroeddin yang memerintahkan untuk membentuk pemerintahan darurat. Hal ini kemudian ditindaklanjuti oleh Sjafroeddin dengan membentuk PDRI pada 22 Desember 1949 di Desa Halaban, Sumatera Barat.

Dibentuknya PDRI pada situasi tersebut, sangat penting untuk menunjukkan kepada rakyat Indonesia, Belanda dan juga dunia Internasional, bahwa pemerintahan Indonesia masih ada,'' kata Fadli Zon.

Dengan dibentuknya  PDRI, lanjut Fadli, perjuangan gerilya serta upaya diplomatik dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan pengakuan kedaulatan pun dapat tetap dijalankan.





Strategi ini yang pada akhirnya mampu mendorong Belanda untuk menghentikan agresinya dan mau kembali ke meja perundingan.

Fadli Zon juga menggarisbawahi, bahwa, terbentuknya PDRI menunjukkan tingginya solidaritas dan rasa kebangsaan di antara pemimpin nasional saat itu. Kepercayaan nasional menjadi modal penting dalam mempertahankan eksistensi Indonesia.





"Nah, Tantangan dan ancaman kepada Indonesia pada hari ini tentunya juga tidak jauh lebih mudah. Baik itu ancaman tradisional maupun non tradisional, yang datang dari dalam maupun luar.

Untuk itu kami berharap agar peringatan Hari Bela Negara tahun ini, dapat menginspirasi kita semua untuk menjaga Indonesia dari berbagai ancaman yang ingin meruntuhkan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia," tegas Fadli Zon.(republika)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

 Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menyatakan bahwa Hari Bela Negara yang jatuh pada Senin kemarin (19/12)  mengandung pesan historis yang penting bagi perjuangan kemerdekaan nasional .Untuk itu pemahaman dan peringatan hari bela negara menjadi penting artinya,

Fadli menjelaskan bahwa momentum ini terkait dengan dibentuknya PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di Sumatera Barat yang diketuai oleh Sjafroeddin Prawiranegara.







"Sesaat sebelum ditangkapnya Soekarno dan Hatta dalam agresi militer Belanda 19 Desember 1949, Soekarno - Hatta telah mengirim radiogram kepada Sjafroeddin yang memerintahkan untuk membentuk pemerintahan darurat. Hal ini kemudian ditindaklanjuti oleh Sjafroeddin dengan membentuk PDRI pada 22 Desember 1949 di Desa Halaban, Sumatera Barat.

Dibentuknya PDRI pada situasi tersebut, sangat penting untuk menunjukkan kepada rakyat Indonesia, Belanda dan juga dunia Internasional, bahwa pemerintahan Indonesia masih ada,'' kata Fadli Zon.

Dengan dibentuknya  PDRI, lanjut Fadli, perjuangan gerilya serta upaya diplomatik dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan pengakuan kedaulatan pun dapat tetap dijalankan.





Strategi ini yang pada akhirnya mampu mendorong Belanda untuk menghentikan agresinya dan mau kembali ke meja perundingan.

Fadli Zon juga menggarisbawahi, bahwa, terbentuknya PDRI menunjukkan tingginya solidaritas dan rasa kebangsaan di antara pemimpin nasional saat itu. Kepercayaan nasional menjadi modal penting dalam mempertahankan eksistensi Indonesia.





"Nah, Tantangan dan ancaman kepada Indonesia pada hari ini tentunya juga tidak jauh lebih mudah. Baik itu ancaman tradisional maupun non tradisional, yang datang dari dalam maupun luar.

Untuk itu kami berharap agar peringatan Hari Bela Negara tahun ini, dapat menginspirasi kita semua untuk menjaga Indonesia dari berbagai ancaman yang ingin meruntuhkan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia," tegas Fadli Zon.(republika)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Masya Allah ... Anak Syria terus Membaca Al Quran Meski dalam Keadaan Terluka



Anak Syria terus Membaca Al Quran Meski dalam Keadaan Terluka



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Anak Syria terus Membaca Al Quran Meski dalam Keadaan Terluka



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Merinding! Artis Cantik Ini Berani Kritik Jokowi yang ke Iran dan Muslim yang Dukung Ahok



Krisis yang terjadi di Aleppo, Suriah seharusnya membuat pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi peka. Kepekaan harus dibuktikan dengan ucapan keprihatinan atau yang lebih bagus lagi mengirimkan bantuan ke negara yang sedang bergejolak itu. Sayangnya, Jokowi tidak melakukan tindakan apa-apa, membuat muslim manapun kesal.

Kekesalan itu pula yang dirasakan oleh artis cantik Ratna Galih. Bintang film televisi yang kini berhijab itu kesal melihat pemerintah Indonesia malah memperkuat hubungan bilateral dengan negara syiah Iran.

"Indonesia malah memperkuat kerjasama dengan Iran?  Gue doang atau yang lain kesel juga nggak sih? Orang-orang Islam sadar nggak ini udah pertanda akhir zaman?" kata Ratna Galih, Ahad (18/12/2016) melalui laman jejaring sosialnya.

Ratna, demikian ia akrab siapa, menyebut fitnah luar biasa di Negeri Syam, sungai Eufrat kering, dan pemimpin Islam mulai bersatu. 

"Lah kok Indonesia yang notabenenya penduduk Islam terbanyak malah sibuk memperkuat kerjasama sama Iran, Cina?" heran Ratna.



Lebih sedih lagi, kata dia, umat Islam sendiri yang di Indonesia malah terpecah belah suaranya karena sebagian pilih bela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Yang bela Ahok dibilang cinta NKRI, yang menolak Ahok di bilang ekstrem atau dicuci otak atau menolak Pancasila? Kalau umat menolak pancasila mana bisa umat agama lain hidup tenang puluhan tahun di negara kita tanpa teraniaya?" kata dia.

Ratna merasa Indonesia memang sudah dijajah dari segala bidang. "Masih kurang bukti lagi kalau Indonesia udah dijajah secara ekonomi dan ideologi? Coba lihat tambang-tambang mineral Indonesia, pabrik-pabrik besar di Indonesia, apa nggak banyak tenaga kerja ilegal dari Cina dan kita diem aja bahkan nggak tahu?" cetusnya.

Bukti-bukti penjajahan itu membuat Ratna kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya. Ia tidak takut dibilang aneh-aneh dengan mengeluarkan kegelisahan hatinya.

"Udah nggak bisa bilang apa-apa lagi. Mungkin dengan posting beginian bakal dibilang juga aneh-aneh, biarkanlah yang penting usaha.. dan jangan bilang kalau saya anti selain orang Islam. Banyak sahabat saya non muslim tapi saya sayang mereka karena kita saling toleransi dan menghargai," ujar artis yang fashionable itu.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Krisis yang terjadi di Aleppo, Suriah seharusnya membuat pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi peka. Kepekaan harus dibuktikan dengan ucapan keprihatinan atau yang lebih bagus lagi mengirimkan bantuan ke negara yang sedang bergejolak itu. Sayangnya, Jokowi tidak melakukan tindakan apa-apa, membuat muslim manapun kesal.

Kekesalan itu pula yang dirasakan oleh artis cantik Ratna Galih. Bintang film televisi yang kini berhijab itu kesal melihat pemerintah Indonesia malah memperkuat hubungan bilateral dengan negara syiah Iran.

"Indonesia malah memperkuat kerjasama dengan Iran?  Gue doang atau yang lain kesel juga nggak sih? Orang-orang Islam sadar nggak ini udah pertanda akhir zaman?" kata Ratna Galih, Ahad (18/12/2016) melalui laman jejaring sosialnya.

Ratna, demikian ia akrab siapa, menyebut fitnah luar biasa di Negeri Syam, sungai Eufrat kering, dan pemimpin Islam mulai bersatu. 

"Lah kok Indonesia yang notabenenya penduduk Islam terbanyak malah sibuk memperkuat kerjasama sama Iran, Cina?" heran Ratna.



Lebih sedih lagi, kata dia, umat Islam sendiri yang di Indonesia malah terpecah belah suaranya karena sebagian pilih bela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Yang bela Ahok dibilang cinta NKRI, yang menolak Ahok di bilang ekstrem atau dicuci otak atau menolak Pancasila? Kalau umat menolak pancasila mana bisa umat agama lain hidup tenang puluhan tahun di negara kita tanpa teraniaya?" kata dia.

Ratna merasa Indonesia memang sudah dijajah dari segala bidang. "Masih kurang bukti lagi kalau Indonesia udah dijajah secara ekonomi dan ideologi? Coba lihat tambang-tambang mineral Indonesia, pabrik-pabrik besar di Indonesia, apa nggak banyak tenaga kerja ilegal dari Cina dan kita diem aja bahkan nggak tahu?" cetusnya.

Bukti-bukti penjajahan itu membuat Ratna kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya. Ia tidak takut dibilang aneh-aneh dengan mengeluarkan kegelisahan hatinya.

"Udah nggak bisa bilang apa-apa lagi. Mungkin dengan posting beginian bakal dibilang juga aneh-aneh, biarkanlah yang penting usaha.. dan jangan bilang kalau saya anti selain orang Islam. Banyak sahabat saya non muslim tapi saya sayang mereka karena kita saling toleransi dan menghargai," ujar artis yang fashionable itu.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Rekayasa Terselubung Kepentingan SARA Tergambar dalam Uang Rupiah Baru ?




 Rahman Sabon Nama pengamat politik senior Minggu 18 Desember 2016 mempertanyakan 12 nama tokoh nasional yang dianggap pahlawan sehingga wajahnya akan terpampang pada desain uang rupiah baru.


Bank Indonesia yang diberi otoritas sesuai Undang Undang No.7 tahun 2001sebagai satu2nya lembaga yang berwenang menerbitkan uang,peredaran dan pencabutan/penarikan mata uang rupiah. Sebagai alat tukar resmi untuk masyarakat Indonesia maupun dunia,sehingga menjadi pertanyaan sepertinya ada rekayasa kepentingan Sara pada nama nama itu.Apakah karena gambar rupiah yang saat ini digunakan diianggap tidak wewakili kepentingan Sara dan kebhinekaan sehingga NKRI rapuh..?

Terkait dengan hal ini saya menghimbau agar anda pemangku kepentingan harusnya berfikir jauh kedepan untuk persatuan dan kesatuan bangsa dalam kebhinekaan,jangan berfikiran picik menghendaki mayoritas toleran tetapi kita sendiri yang tidak toleran. menjadi suatu pertanyaan siapa yang mengusulkan karena wajah yang terpampang di uang rupiah itu harusnya benar benar pahlawan.

Apa kriteria menjadikan Tjut Meutia dipilih sebagai pahlawan,yang kepahlawanannya tidak nampak bila dibanding dengan Tjut Nyakdien atau Laksamana Malahayati seorang perempuan Aceh berumur 16 tahun secara heroik memimpin Armada Perang Angkatan Laut mengalahkan Belanda dan Belanda tidak mampu mengalahkannya.


 Rahman Sabon


Juga Frans Kaisepo setahu saya dia bukan pahlawan,apa jasa kepahlawanannya,kalau hanya untuk mengakomodir kepentingan politik orang Papua,menurut saya dengan gambar masyarakat Papua dalam uang rupiah baru sdh cukup.

Yang lucu lagi adalah nama TB.Simatupang dimana kepahlawanannya …?orang yang tidur dirumah dibunuh oleh gerakan PKI dan jadi pahlawan,kenapa bukan Ahmad Yani sebagai pahlawan revolusi atau Ade Irma Nasution.Kalau untuk mewakili kepentingan politik orang Batak kenapa tidak Jendral Besar Abdul Haris Nasution..? Dia jendral besar bintang lima yang disegani dunia dan buku karangannya tentang perang gerilya digunakan dan panduan tentara Amerika dan Barat..atau kenapa bukan Tuanku Imam Bonjol .ini aneh bin ajaib kriteria pahlawannya dimana.

Tokoh Islam Idham Khalid mantan Ketua DPR/MPR mantan Ketua Umum PB NU apakah beliau pahlawan..?patut dipertanyakan kenapa bukan KH.Hasyim Asyari atau KH.Ahmad Dahlan,..?jadi menurut saya kriterianya harus jelas dan harusnya benar benar pahlawan atas kemerdekaan negeri ini.
Yang membuat saya lebih bingung lagi adalah nama Herman Yohanes mantan rektor Universitas Gajahmada asal Nusa Tenggara Timur (NTT),siapa yang memberi gelar pahlawan padanya dan pahlawan apa,yang benar benar pahlawan dari NTT yang mengusir Belanda dan Portugis dari tanah NTT ke Timor Leste adalah pahlawan Ratu Loli dengan gelar Kapitan Lingga Ratu Loli (nama Ratu Loli bukan suku Ratu Loli) dari Adonara ,NTT.

Sebagai ahli perang dari NTT diminta oleh Kerajaan Buton Bau-Bau Sulawesi ,ditunjuk sebagai panglima perang Angkatan Laut mengusir Belanda di Kerajaan Lingga Kep.Riau sehingga bergelar Kapitan Lingga,jadi kenapa harus Prof.Herman Johanes….? Juga nama Husni Thamrin tokoh teater/seniman Betawi ,kenapa bukan Pangeran Jayakarta.

Dan juga I Gusti Ketut Pudja dari Bali, dalam pelajaran sejarah ketika masih di bangku Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama saya tidak menemukan nama ini apakah dia tokoh atau pahlawan bidang apa,jadi menurut saya seharusnya orang Bali yang memiliki jasa yang telah dirasakan manfaatnya baik oleh masyarakat Indonesia maupun dunia adalah penemu Konstruksi Cakar Ayam.

Kenapa Sri Sultan Hamengkubowono IX tidak tercantum dalam uang rupiah baru, padahal tanpa Sri Sultan dan Kerajaan Mataram Yogjakarta belum tentu Indonesia merdeka.

Rahman Sabon Nama mengingatkan pada pemerintah agar jangan ada rekayasa terselubung terkait 12 wajah tokoh nasional dan pahlawan yang wajahnya terpampang pada uang rupiah baru 2016 karena rakyat tidak bodoh. [repelita]



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




 Rahman Sabon Nama pengamat politik senior Minggu 18 Desember 2016 mempertanyakan 12 nama tokoh nasional yang dianggap pahlawan sehingga wajahnya akan terpampang pada desain uang rupiah baru.


Bank Indonesia yang diberi otoritas sesuai Undang Undang No.7 tahun 2001sebagai satu2nya lembaga yang berwenang menerbitkan uang,peredaran dan pencabutan/penarikan mata uang rupiah. Sebagai alat tukar resmi untuk masyarakat Indonesia maupun dunia,sehingga menjadi pertanyaan sepertinya ada rekayasa kepentingan Sara pada nama nama itu.Apakah karena gambar rupiah yang saat ini digunakan diianggap tidak wewakili kepentingan Sara dan kebhinekaan sehingga NKRI rapuh..?

Terkait dengan hal ini saya menghimbau agar anda pemangku kepentingan harusnya berfikir jauh kedepan untuk persatuan dan kesatuan bangsa dalam kebhinekaan,jangan berfikiran picik menghendaki mayoritas toleran tetapi kita sendiri yang tidak toleran. menjadi suatu pertanyaan siapa yang mengusulkan karena wajah yang terpampang di uang rupiah itu harusnya benar benar pahlawan.

Apa kriteria menjadikan Tjut Meutia dipilih sebagai pahlawan,yang kepahlawanannya tidak nampak bila dibanding dengan Tjut Nyakdien atau Laksamana Malahayati seorang perempuan Aceh berumur 16 tahun secara heroik memimpin Armada Perang Angkatan Laut mengalahkan Belanda dan Belanda tidak mampu mengalahkannya.


 Rahman Sabon


Juga Frans Kaisepo setahu saya dia bukan pahlawan,apa jasa kepahlawanannya,kalau hanya untuk mengakomodir kepentingan politik orang Papua,menurut saya dengan gambar masyarakat Papua dalam uang rupiah baru sdh cukup.

Yang lucu lagi adalah nama TB.Simatupang dimana kepahlawanannya …?orang yang tidur dirumah dibunuh oleh gerakan PKI dan jadi pahlawan,kenapa bukan Ahmad Yani sebagai pahlawan revolusi atau Ade Irma Nasution.Kalau untuk mewakili kepentingan politik orang Batak kenapa tidak Jendral Besar Abdul Haris Nasution..? Dia jendral besar bintang lima yang disegani dunia dan buku karangannya tentang perang gerilya digunakan dan panduan tentara Amerika dan Barat..atau kenapa bukan Tuanku Imam Bonjol .ini aneh bin ajaib kriteria pahlawannya dimana.

Tokoh Islam Idham Khalid mantan Ketua DPR/MPR mantan Ketua Umum PB NU apakah beliau pahlawan..?patut dipertanyakan kenapa bukan KH.Hasyim Asyari atau KH.Ahmad Dahlan,..?jadi menurut saya kriterianya harus jelas dan harusnya benar benar pahlawan atas kemerdekaan negeri ini.
Yang membuat saya lebih bingung lagi adalah nama Herman Yohanes mantan rektor Universitas Gajahmada asal Nusa Tenggara Timur (NTT),siapa yang memberi gelar pahlawan padanya dan pahlawan apa,yang benar benar pahlawan dari NTT yang mengusir Belanda dan Portugis dari tanah NTT ke Timor Leste adalah pahlawan Ratu Loli dengan gelar Kapitan Lingga Ratu Loli (nama Ratu Loli bukan suku Ratu Loli) dari Adonara ,NTT.

Sebagai ahli perang dari NTT diminta oleh Kerajaan Buton Bau-Bau Sulawesi ,ditunjuk sebagai panglima perang Angkatan Laut mengusir Belanda di Kerajaan Lingga Kep.Riau sehingga bergelar Kapitan Lingga,jadi kenapa harus Prof.Herman Johanes….? Juga nama Husni Thamrin tokoh teater/seniman Betawi ,kenapa bukan Pangeran Jayakarta.

Dan juga I Gusti Ketut Pudja dari Bali, dalam pelajaran sejarah ketika masih di bangku Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama saya tidak menemukan nama ini apakah dia tokoh atau pahlawan bidang apa,jadi menurut saya seharusnya orang Bali yang memiliki jasa yang telah dirasakan manfaatnya baik oleh masyarakat Indonesia maupun dunia adalah penemu Konstruksi Cakar Ayam.

Kenapa Sri Sultan Hamengkubowono IX tidak tercantum dalam uang rupiah baru, padahal tanpa Sri Sultan dan Kerajaan Mataram Yogjakarta belum tentu Indonesia merdeka.

Rahman Sabon Nama mengingatkan pada pemerintah agar jangan ada rekayasa terselubung terkait 12 wajah tokoh nasional dan pahlawan yang wajahnya terpampang pada uang rupiah baru 2016 karena rakyat tidak bodoh. [repelita]



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !