Selasa, 20 Desember 2016

Hukum Suami Mengungkit Semua Nafkahnya Kepada Istri






Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.

Dari: Fajar

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”

أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)



Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,

Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib. Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah dia berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.

Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?

Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !






Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.

Dari: Fajar

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”

أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)



Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,

Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib. Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah dia berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.

Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?

Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Benarkah Bapak Dari Seluruh Manusia ada Tiga ?




Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:
Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”



Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).
 
Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:
Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”



Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).
 
Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Kisah Cinta Dibalik Lahirnya Salahuddin Alayyubi, Sang Pembebas Baitul Maqdis


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Malaikat Malik, Heran dengan Para Penghuni Neraka Ini



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2e2d3NAAVYOOJK2lVYmhcfKG-uv_H_yINSqv068N0-LI83hmSlca0-yPdnTDv6BAyHKg-k_CkYofMYCGWsdQukwJfka5mb6j8-vLWzThgGvVwfKBhg0KeNPLx7fyZY8ORKDPq0nXqPw0/s320/neraka.jpg

ORANG yang berdosa tentu akan masuk neraka. Ya hal itu sudah pasti kita ketahui. Dan di dunia ini ada dua jenis manusia yang berdosa. Yakni, manusia yang memang benar-benar berdosa, seperti kaum kafir. Ada pula yang berdosa, tetapi sebenarnya ia beriman, yakni mengakui bahwa Allah itu Tuhannya. Lantas, seperti apa orang-orang berdosa ini digiring ke neraka?

Manusia yang menjadi musuh Allah digiring ke neraka. Wajah mereka hitam pekat, matanya melotot, mulutnya dikunci. Tatkala mereka sampai di pintu neraka, mereka disambut oleh Zabaniyah dengan membawa belenggu dan rantai. Rantai itu diletakkan di mulut orang kafir lalu dikeluarkan dari duburnya. Tangan kirinna dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dadanya, lalu dicabut dari antara kedua bahunya. Mereka diikat dengan rantai yang digandengkan dengan setan dalam satu rantai. Selanjutnya mereka diseret dengan wajahnya. Mereka terus dipukuli oleh malaikat dengan gada besi (sejenis palu).

Ketika orang kafir hendak keluar dari neraka, maka para malaikat mengembalikan mereka ke neraka. Lalu, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka ini yang dulu pernah kamu dustakan.”



Fatimah RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya tentang umatmu?” Beliau menjawab, “Para malaikat itu menggiring umatku ke neraka dengan wajahnya tetap putih (tidak hitam), maka mereka tidak melotot, mulut mereka tidak terkunci, mereka juga tidak digandengkan dengan setan, rantai dan belenggunya tidak diletakkan di atas mereka.”

Fatimah lantas bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menuntun umat?” Beliau menjawab, “Adapun orangtua dan anak muda, maka keduanya dipegang dengan jenggotnya. Sedangkan perempuan akan dipegang gulungan rambutnya dan ubun-ubunnya, maka banyak orang yang beruban dari umatku yang dicabut ubannya lalu dituntun ke neraka. Ia terus menjerit-jerit, ‘Aduh… masa mudaku, aduh… kelemahanku.’ Banyak dari kalangan umatku yang ditarik jenggotnya kemudian dituntun ke neraka, mereka menjerit-jerit, ‘Aduh… rasa maluku, aduh… kerusakan tutupku.’ Sehingga, umatku itu sampai di tempat malaikat Malik.”

Ketika malaikat Malik melihat mereka, ia bertanya kepada malaikat yang membawa umatku, “Siapa mereka, aku belum pernah melihat orang celaka yang sangat mengherankan ini, wajah mereka tidak hitam, sedangkan letak rantai dan belenggu di lehernya?” Malaikat yang membawa menjawab, “Kami diperintahkan mendatangkan mereka dalam keadaan seperti ini.” Malaikat Malik lalu bertanya kepada mereka, “Wahai orang yang celaka, siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Muhammad ﷺ.”



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2e2d3NAAVYOOJK2lVYmhcfKG-uv_H_yINSqv068N0-LI83hmSlca0-yPdnTDv6BAyHKg-k_CkYofMYCGWsdQukwJfka5mb6j8-vLWzThgGvVwfKBhg0KeNPLx7fyZY8ORKDPq0nXqPw0/s320/neraka.jpg

ORANG yang berdosa tentu akan masuk neraka. Ya hal itu sudah pasti kita ketahui. Dan di dunia ini ada dua jenis manusia yang berdosa. Yakni, manusia yang memang benar-benar berdosa, seperti kaum kafir. Ada pula yang berdosa, tetapi sebenarnya ia beriman, yakni mengakui bahwa Allah itu Tuhannya. Lantas, seperti apa orang-orang berdosa ini digiring ke neraka?

Manusia yang menjadi musuh Allah digiring ke neraka. Wajah mereka hitam pekat, matanya melotot, mulutnya dikunci. Tatkala mereka sampai di pintu neraka, mereka disambut oleh Zabaniyah dengan membawa belenggu dan rantai. Rantai itu diletakkan di mulut orang kafir lalu dikeluarkan dari duburnya. Tangan kirinna dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dadanya, lalu dicabut dari antara kedua bahunya. Mereka diikat dengan rantai yang digandengkan dengan setan dalam satu rantai. Selanjutnya mereka diseret dengan wajahnya. Mereka terus dipukuli oleh malaikat dengan gada besi (sejenis palu).

Ketika orang kafir hendak keluar dari neraka, maka para malaikat mengembalikan mereka ke neraka. Lalu, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka ini yang dulu pernah kamu dustakan.”



Fatimah RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya tentang umatmu?” Beliau menjawab, “Para malaikat itu menggiring umatku ke neraka dengan wajahnya tetap putih (tidak hitam), maka mereka tidak melotot, mulut mereka tidak terkunci, mereka juga tidak digandengkan dengan setan, rantai dan belenggunya tidak diletakkan di atas mereka.”

Fatimah lantas bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menuntun umat?” Beliau menjawab, “Adapun orangtua dan anak muda, maka keduanya dipegang dengan jenggotnya. Sedangkan perempuan akan dipegang gulungan rambutnya dan ubun-ubunnya, maka banyak orang yang beruban dari umatku yang dicabut ubannya lalu dituntun ke neraka. Ia terus menjerit-jerit, ‘Aduh… masa mudaku, aduh… kelemahanku.’ Banyak dari kalangan umatku yang ditarik jenggotnya kemudian dituntun ke neraka, mereka menjerit-jerit, ‘Aduh… rasa maluku, aduh… kerusakan tutupku.’ Sehingga, umatku itu sampai di tempat malaikat Malik.”

Ketika malaikat Malik melihat mereka, ia bertanya kepada malaikat yang membawa umatku, “Siapa mereka, aku belum pernah melihat orang celaka yang sangat mengherankan ini, wajah mereka tidak hitam, sedangkan letak rantai dan belenggu di lehernya?” Malaikat yang membawa menjawab, “Kami diperintahkan mendatangkan mereka dalam keadaan seperti ini.” Malaikat Malik lalu bertanya kepada mereka, “Wahai orang yang celaka, siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Muhammad ﷺ.”



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Masyarakat Aceh Tolak Gambar Cut Meutia tak Berjilbab di Uang Baru, Pemerintah Harus Tarik Kembali


Aceh ~ Konsorsium Peusaba dan Anggota Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi mengecam keras lukisan pahlawan Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada lembaran uang kertas terbaru pecahan seribu rupiah tanpa jilbab.

“Kami mengecam lukisan srikandi Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada mata uang baru tanpa berjilbab, ini sangat mencoreng nama baik Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Syariat Islam,” ujar Mawardi Usman kepada mediaaceh via telepon seluler, Selasa, 20 Desember 2016.

Konsorsium yang bergerak aktif dalam bidang sejarah, adat dan budaya Aceh ini menilai, pemuatan lukisan itu tidak sesuai dengan karakter Cut Meutia yang dikenal sebagai srikandi Aceh dan pejuang Islam. Mawardi mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar menarik ulang dan menggantinya dengan lukisan Cut Meutia yang berhijab. Hal ini dikatakan Mawardi untuk mencegar peredaran uang kertas ke khalayak publik.

“Kami mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar segera menariknya. Tujuannya adalah untuk menghindari sikap mosi tak percaya rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat yang secara nyata telah mencoreng nama baik pahlawan Aceh,” ujar Mawardi Usman

Sementara itu di tempat berbada, Asrizal H  menaakan kalau diAceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya. Jadi adanya uang baru gambar cut mutia tanpa jilbab menurutnya melemahkan usaha tersebut.

Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.

Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia. (Tribun/int) 

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah








BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 








http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Aceh ~ Konsorsium Peusaba dan Anggota Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi mengecam keras lukisan pahlawan Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada lembaran uang kertas terbaru pecahan seribu rupiah tanpa jilbab.

“Kami mengecam lukisan srikandi Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada mata uang baru tanpa berjilbab, ini sangat mencoreng nama baik Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Syariat Islam,” ujar Mawardi Usman kepada mediaaceh via telepon seluler, Selasa, 20 Desember 2016.

Konsorsium yang bergerak aktif dalam bidang sejarah, adat dan budaya Aceh ini menilai, pemuatan lukisan itu tidak sesuai dengan karakter Cut Meutia yang dikenal sebagai srikandi Aceh dan pejuang Islam. Mawardi mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar menarik ulang dan menggantinya dengan lukisan Cut Meutia yang berhijab. Hal ini dikatakan Mawardi untuk mencegar peredaran uang kertas ke khalayak publik.

“Kami mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar segera menariknya. Tujuannya adalah untuk menghindari sikap mosi tak percaya rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat yang secara nyata telah mencoreng nama baik pahlawan Aceh,” ujar Mawardi Usman

Sementara itu di tempat berbada, Asrizal H  menaakan kalau diAceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya. Jadi adanya uang baru gambar cut mutia tanpa jilbab menurutnya melemahkan usaha tersebut.

Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.

Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia. (Tribun/int) 

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah








BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 








http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUDAHKAH Anda Bertobat dari Nyinyirin Fatwa MUI? Ini Cerita Tobatnya Tere Liye




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

FOTO ini membantah Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru ?

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !