Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Kisah Cinta Dibalik Lahirnya Salahuddin Alayyubi, Sang Pembebas Baitul Maqdis


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUDAHKAH Anda Bertobat dari Nyinyirin Fatwa MUI? Ini Cerita Tobatnya Tere Liye




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUBHANALLAH ! Rahasia di Balik Moncernya Striker Liverpool Ini Adalah Sholat 5 Waktu!


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ada Poster “Umat Islam Dukung Ahok”, Ibu Ini Heroik Terobos Massa Pendukung Ahok

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saat Ramadhan Hormatilah Yang Tidak Puasa, Saat Natal Kok Sebaliknya, Toleransi Kok Gitu ?



Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.






Kok toleransi seperti itu, sih?


Toleransi kan seharusnya SALING menghormati. Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.

Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan? Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.






Kok toleransi seperti itu, sih?


Toleransi kan seharusnya SALING menghormati. Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.

Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan? Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Dominasi Pahlawan Non Muslim Dimata Uang RI Yang Baru, BENARKAH ?


Pemerintah saat ini nampaknya kurang menghargai keberadaan pahlawan Islam di tanah air. Pangeran Diponegoro pejuang Islam yang melegenda di tanah air, yang mengobarkan perang di Jawa melawan Belanda dihilangkan dalam mata uang 5000 rupiah. Diponegoro diganti dengan KH Idham Chalid, yang ketokohannya jauh di bawah Diponegoro. 

Sementara itu, gambar Soekarno Hatta tetap dipampang di gambar mata uang 100.000 rupiah. Entah apa maksudnya pemerintah mengganti gambar Diponegoro dan membiarkan terpampang gambar Soekarno-Hatta.

Selain itu, pada gambar uang 1000 rupiah, pahlawan Islam Pattimura juga diganti dengan I Gusti Ketut Puja tokoh Hindu Bali. I Gusti adalah bekas gubernur Bali dan tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga gambar mata uang 10.000 rupiah. Bila mata uang lama bergambar pahlawan Islam Tjut Nyak Din kemudian berubah menjadi Sultan Mahmud Badaruddin, kini mata uang ini bergambar tokoh Kristen Irian Frans Kaisiepo. Tokoh ini salah satu orang yang memperjuangkan Irian masuk ke Indonesia dan juga mantan gubernur Irian.

Uang pecahan logam 100 rupiah yang tadinya bergambar burung yang indah, juga diganti dengan tokoh Kristen Herman Johannes. Tokoh ini adalah pahlawan nasional dan mantan rektor UGM. Begitu pula uang pecahan 500 rupiah. Yang tadinya bergambar bunga melati diganti dengan pahlawan nasional beragama Kristen TB Simatupang.

Dalam pergantian gambar mata uang kemarin (19/12), nampaknya pemerintah Jokowi lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh non Islam dari pada tokoh Islam. Entah siapa yang merancang ini semua. Ya jelas nampak sekarang pahlawan-pahlawan Islam mulai disingkirkan dalam gambar mata uang di tanah air. 

Ibnu Dachli
Warga Depok, Jawa  Barat 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Pemerintah saat ini nampaknya kurang menghargai keberadaan pahlawan Islam di tanah air. Pangeran Diponegoro pejuang Islam yang melegenda di tanah air, yang mengobarkan perang di Jawa melawan Belanda dihilangkan dalam mata uang 5000 rupiah. Diponegoro diganti dengan KH Idham Chalid, yang ketokohannya jauh di bawah Diponegoro. 

Sementara itu, gambar Soekarno Hatta tetap dipampang di gambar mata uang 100.000 rupiah. Entah apa maksudnya pemerintah mengganti gambar Diponegoro dan membiarkan terpampang gambar Soekarno-Hatta.

Selain itu, pada gambar uang 1000 rupiah, pahlawan Islam Pattimura juga diganti dengan I Gusti Ketut Puja tokoh Hindu Bali. I Gusti adalah bekas gubernur Bali dan tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga gambar mata uang 10.000 rupiah. Bila mata uang lama bergambar pahlawan Islam Tjut Nyak Din kemudian berubah menjadi Sultan Mahmud Badaruddin, kini mata uang ini bergambar tokoh Kristen Irian Frans Kaisiepo. Tokoh ini salah satu orang yang memperjuangkan Irian masuk ke Indonesia dan juga mantan gubernur Irian.

Uang pecahan logam 100 rupiah yang tadinya bergambar burung yang indah, juga diganti dengan tokoh Kristen Herman Johannes. Tokoh ini adalah pahlawan nasional dan mantan rektor UGM. Begitu pula uang pecahan 500 rupiah. Yang tadinya bergambar bunga melati diganti dengan pahlawan nasional beragama Kristen TB Simatupang.

Dalam pergantian gambar mata uang kemarin (19/12), nampaknya pemerintah Jokowi lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh non Islam dari pada tokoh Islam. Entah siapa yang merancang ini semua. Ya jelas nampak sekarang pahlawan-pahlawan Islam mulai disingkirkan dalam gambar mata uang di tanah air. 

Ibnu Dachli
Warga Depok, Jawa  Barat 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Politik Pengetahuan dalam Rupiah Baru, "Tiada Pahlawan Imam Bonjol di Dompet Kami Lagi"

Memilih sosok yang bakal tampil dalam lembaran anyar mata uang sukar dielak dari preferensi penguasa dan pendukungnya.

Ini hal biasa meski mungkin hasilnya mengundang tanya dan kecewa. Tafsiran sejarah milik siapa yang berkuasa kiranya berlaku dalam soal pahlawan yang mau ditampilkan.




Memilihnya mungkin dislogani patriotisme dan proporsionalitas atas nama daerah ataupun suku. Ini pun bertali erat dengan selera penguasa. Repotnya kalau penguasa awam sejarah maka yang bermain dominan adalah sejarawan di sekelilingnya. Mereka manfaatkan momentum buat menafsirkan narasi sampai mentransformasi isi pikiran yang selama ini dihambat rezim sebelumnya.

Bagi saya tak kaget melihat hasil FGD para akademisi dan di antaranya sejarawan dalam memilih sosok di mata uang baru kita. Paderi dengan Imam Bonjol adalah momen tepat dienyah. Tokoh “kami” pun diseliwerkan untuk dikenalkan publik seolah tak ada wakil lain. Nama-nama yang asing memang bukan alasan menolak. Hanya saja, pola pemilahan dan pemilihan selektif itu sukar diarahkan sebagai keputusan “bijak dan tanpa tendensi hati”. Ada kerja-kerja ideologi dalam proses seleksi. Asas kesetaraan dan perwakilan, karenanya semata jadi jargon menutup alasan lain.
Pahlawan di lembaran mata uang, sekali lagi, imajinasi politik kekuasaan terutama yang dibangun para cendekia di sekitar presiden. Ini hak mereka. Tinggal bagaimana kita, umat ini, jernih dan cerdas membaca “permainan” tetanda dengan arus utama bahasa indah: bhineka, persatuan, dan proporsi daerah.

Selamat tinggal Imam Bonjol. Elan vital gerakanmu tak bakal dapat tempat pada era sekarang. Karena mereka sejak lama ingin kau dihapus dari daftar pahlawan. Karena kau tak lain oleh mereka dianggap simbol kekerasan, alias inspirasi penyebaran wahabi pada masa sekarang oleh sebagian kalangan. Sebuah tafsir yang sebetulnya bisa dibincang bijak lebih jauh tanpa bias politik.

Karena sudah diputuskan penguasa, semoga politik pengenangan pahlawan terpilih lewat lembaran uang jadi renungan umat Islam. Silap dan abai menerawang calon penguasa beginilah jadinya. Ia akan dikerumuni kalangan yang semena-mena Menafikan tokoh umat. Bukan penguasanya salah memang. Hanya lemahnya ia jadi pintu masuk gerombolan sejarawan dan akademisi menjalankan politik pengetahuan. Hal lazim dan jamak sayangnya umat abai lagi atas praktik ini. 

Yusuf Maulana [islampos]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Memilih sosok yang bakal tampil dalam lembaran anyar mata uang sukar dielak dari preferensi penguasa dan pendukungnya.

Ini hal biasa meski mungkin hasilnya mengundang tanya dan kecewa. Tafsiran sejarah milik siapa yang berkuasa kiranya berlaku dalam soal pahlawan yang mau ditampilkan.




Memilihnya mungkin dislogani patriotisme dan proporsionalitas atas nama daerah ataupun suku. Ini pun bertali erat dengan selera penguasa. Repotnya kalau penguasa awam sejarah maka yang bermain dominan adalah sejarawan di sekelilingnya. Mereka manfaatkan momentum buat menafsirkan narasi sampai mentransformasi isi pikiran yang selama ini dihambat rezim sebelumnya.

Bagi saya tak kaget melihat hasil FGD para akademisi dan di antaranya sejarawan dalam memilih sosok di mata uang baru kita. Paderi dengan Imam Bonjol adalah momen tepat dienyah. Tokoh “kami” pun diseliwerkan untuk dikenalkan publik seolah tak ada wakil lain. Nama-nama yang asing memang bukan alasan menolak. Hanya saja, pola pemilahan dan pemilihan selektif itu sukar diarahkan sebagai keputusan “bijak dan tanpa tendensi hati”. Ada kerja-kerja ideologi dalam proses seleksi. Asas kesetaraan dan perwakilan, karenanya semata jadi jargon menutup alasan lain.
Pahlawan di lembaran mata uang, sekali lagi, imajinasi politik kekuasaan terutama yang dibangun para cendekia di sekitar presiden. Ini hak mereka. Tinggal bagaimana kita, umat ini, jernih dan cerdas membaca “permainan” tetanda dengan arus utama bahasa indah: bhineka, persatuan, dan proporsi daerah.

Selamat tinggal Imam Bonjol. Elan vital gerakanmu tak bakal dapat tempat pada era sekarang. Karena mereka sejak lama ingin kau dihapus dari daftar pahlawan. Karena kau tak lain oleh mereka dianggap simbol kekerasan, alias inspirasi penyebaran wahabi pada masa sekarang oleh sebagian kalangan. Sebuah tafsir yang sebetulnya bisa dibincang bijak lebih jauh tanpa bias politik.

Karena sudah diputuskan penguasa, semoga politik pengenangan pahlawan terpilih lewat lembaran uang jadi renungan umat Islam. Silap dan abai menerawang calon penguasa beginilah jadinya. Ia akan dikerumuni kalangan yang semena-mena Menafikan tokoh umat. Bukan penguasanya salah memang. Hanya lemahnya ia jadi pintu masuk gerombolan sejarawan dan akademisi menjalankan politik pengetahuan. Hal lazim dan jamak sayangnya umat abai lagi atas praktik ini. 

Yusuf Maulana [islampos]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

JONRU GINTING : Kok toleransi seperti itu, sih ?




Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.
Kok toleransi seperti itu, sih?

Toleransi kan seharusnya SALING menghormati.

Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.
Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan?

Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.
Kok toleransi seperti itu, sih?

Toleransi kan seharusnya SALING menghormati.

Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.
Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan?

Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Senin, 19 Desember 2016

Arogansi SARI ROTI itu Kini Membawa Petaka - "THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"


 Arogansi itu mulai membawa petaka. Dari mengaku rotinya hanya dikonsumsi kelas menangah atas, kini roti-roti tak laku di perkotaan harus dijajakan di jalan-jalan. Menumpuk di rak-rak toko tak laku, lalu kembali masuk gudang karena expired.

Promosi diskon harga hingga pasang papan reklame besar di jalan-jalan. Namun sepertinya tak bisa menolong akibat kesombongan.

Inilah...

"THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"

One upon a time in the east,

Pada suatu masa di negeri timur nan jauh, lahirlah seorang putri yg terbuat dari gandum, Sari Roti namanya.

Putri Sarot yg telah istimewa sejak kelahirannya ini, tumbuh menjadi putri manis mempesona.
Wajah halusnya berserat indah. Keelokan parasnya membuat kain oles apapun yg terbuat dari strawberry, keju, krim lemak susu, maupun kacang, melekat indah di sepanjang kulitnya yg berpori sempurna.

Tak hanya disukai kaum lelaki, kesederhanaan Putri Sarot yg rela melangkah turun hingga ke pelosok2 negeri nan makmur itu, juga mampu memikat ibu2 dan anak2 yang sebelumnya hanya bisa menelan sesendok demi sesendok beras matang.

Bak bunga istana yg istimewa, Putri Sarot pun tumbuh cepat bersama makin sejahteranya negeri yg dihuninya.


Tak seperti nasib putri2 lain yg kemampuannya terbatas, Putri Sarot yg orang tuanya adalah pemilik Kerajaan Gandum, memiliki segala fasilitas yg dibutuhkan oleh seorang putri raja.

Kerajaan yg tadinya hanya ada di Jababeka, tak perlu waktu puluhan tahun telah merambah wilayah Semarang, Pasuruan, Cibitung dan Cikarang. Bahkan wilayah2 baru pun ditaklukkan melalui perluasan pengaruh produksinya. Putri Sarot menggotong mesin2 canggih dan meluaskan kerajaannya hingga ke kota besar di Nusa2 lain di seberang lautan, Medan dan Makassar.

Pendeknya kepopuleran Putri Sarot telah mengalahkan pamor para Putri Gandum lainnya.

Namun bak kisah pepatah lama, dimana kesombongan tupai yg gemar melompat2




“Br dpt info dr karyawan Giant Jatimakmur, skrg Sari Roti ga laku…hr ini sdh 3 trolly ga laku, besok tgl expired nya…..kmrn sdh ada 5 trolly yg expired” … tulisnya



di pucuk pepohonan pun akhirnya jatuh, rupanya nasib sama juga menghinggapi keluarga Putri Sarot.

Persis seperti kisah seekor tupai yg sembrono dan membuatnya terjerembab, begitu juga nasib yg dialami Keluarga Putri Sarot.

Aahh... Kisah itu terlalu pedih untuk diceritakan oleh keluarga Sang Putri....

Kejatuhan itu tak boleh luas diketahui, meski rakyat di kerajaan itu telah paham apa yg terjadi.

Keluarga Putri Sarot memilih bungkam. Tapi usahanya kini yg terengah-engah dalam menata kembali kerajaan dan menyelamatkan Putri mereka yg sakit tak berdaya, telah diketahui dimana2.

Putri elok yg tadinya dimaui oleh rakyat jelata itu, kini teronggok menumpuk di sudut-sudut kembara.

Sabtu dan Minggu yg biasanya ia ramah menyambangi rumah2 warga, kini mereka menutup rapat2 pintu rumahnya.

Satu dua sahabat putri masih ada yg mengundang ia bertandang ke rumah mereka, tapi itupun setelah Keluarga Putri Sarot menawar2 kan dirinya lebih murah, atau mengajak gratis si strawberry, pandan dan kacang untuk gratis ikut bersamanya.

*Menulis sambil menikmati sepiring Cireng pedas, yg tak berpori indah tapi renyah memikat lidah.
Dan hanya bisa menghela napas memandangi tumpukan kontainer Putri Sarot yg teronggok sunyi.
Sesekali ada yg bertanya2 dengan sadis 'Apakah mereka semua gratis'? Dan setelah dijawab bahwa hanya olesan selai yg gratis, maka meja olesan itu kembali sepi.

Di sudut lain, tumpukan aneka jenis roti manis berpori indah itu tertidur pulas di rak2 dingin yg menghuni pojok nan sepi.

(by Agi Betha)



Sumber: fb





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


 Arogansi itu mulai membawa petaka. Dari mengaku rotinya hanya dikonsumsi kelas menangah atas, kini roti-roti tak laku di perkotaan harus dijajakan di jalan-jalan. Menumpuk di rak-rak toko tak laku, lalu kembali masuk gudang karena expired.

Promosi diskon harga hingga pasang papan reklame besar di jalan-jalan. Namun sepertinya tak bisa menolong akibat kesombongan.

Inilah...

"THE STORY OF THE PRINCESS OF BREAD"

One upon a time in the east,

Pada suatu masa di negeri timur nan jauh, lahirlah seorang putri yg terbuat dari gandum, Sari Roti namanya.

Putri Sarot yg telah istimewa sejak kelahirannya ini, tumbuh menjadi putri manis mempesona.
Wajah halusnya berserat indah. Keelokan parasnya membuat kain oles apapun yg terbuat dari strawberry, keju, krim lemak susu, maupun kacang, melekat indah di sepanjang kulitnya yg berpori sempurna.

Tak hanya disukai kaum lelaki, kesederhanaan Putri Sarot yg rela melangkah turun hingga ke pelosok2 negeri nan makmur itu, juga mampu memikat ibu2 dan anak2 yang sebelumnya hanya bisa menelan sesendok demi sesendok beras matang.

Bak bunga istana yg istimewa, Putri Sarot pun tumbuh cepat bersama makin sejahteranya negeri yg dihuninya.


Tak seperti nasib putri2 lain yg kemampuannya terbatas, Putri Sarot yg orang tuanya adalah pemilik Kerajaan Gandum, memiliki segala fasilitas yg dibutuhkan oleh seorang putri raja.

Kerajaan yg tadinya hanya ada di Jababeka, tak perlu waktu puluhan tahun telah merambah wilayah Semarang, Pasuruan, Cibitung dan Cikarang. Bahkan wilayah2 baru pun ditaklukkan melalui perluasan pengaruh produksinya. Putri Sarot menggotong mesin2 canggih dan meluaskan kerajaannya hingga ke kota besar di Nusa2 lain di seberang lautan, Medan dan Makassar.

Pendeknya kepopuleran Putri Sarot telah mengalahkan pamor para Putri Gandum lainnya.

Namun bak kisah pepatah lama, dimana kesombongan tupai yg gemar melompat2




“Br dpt info dr karyawan Giant Jatimakmur, skrg Sari Roti ga laku…hr ini sdh 3 trolly ga laku, besok tgl expired nya…..kmrn sdh ada 5 trolly yg expired” … tulisnya



di pucuk pepohonan pun akhirnya jatuh, rupanya nasib sama juga menghinggapi keluarga Putri Sarot.

Persis seperti kisah seekor tupai yg sembrono dan membuatnya terjerembab, begitu juga nasib yg dialami Keluarga Putri Sarot.

Aahh... Kisah itu terlalu pedih untuk diceritakan oleh keluarga Sang Putri....

Kejatuhan itu tak boleh luas diketahui, meski rakyat di kerajaan itu telah paham apa yg terjadi.

Keluarga Putri Sarot memilih bungkam. Tapi usahanya kini yg terengah-engah dalam menata kembali kerajaan dan menyelamatkan Putri mereka yg sakit tak berdaya, telah diketahui dimana2.

Putri elok yg tadinya dimaui oleh rakyat jelata itu, kini teronggok menumpuk di sudut-sudut kembara.

Sabtu dan Minggu yg biasanya ia ramah menyambangi rumah2 warga, kini mereka menutup rapat2 pintu rumahnya.

Satu dua sahabat putri masih ada yg mengundang ia bertandang ke rumah mereka, tapi itupun setelah Keluarga Putri Sarot menawar2 kan dirinya lebih murah, atau mengajak gratis si strawberry, pandan dan kacang untuk gratis ikut bersamanya.

*Menulis sambil menikmati sepiring Cireng pedas, yg tak berpori indah tapi renyah memikat lidah.
Dan hanya bisa menghela napas memandangi tumpukan kontainer Putri Sarot yg teronggok sunyi.
Sesekali ada yg bertanya2 dengan sadis 'Apakah mereka semua gratis'? Dan setelah dijawab bahwa hanya olesan selai yg gratis, maka meja olesan itu kembali sepi.

Di sudut lain, tumpukan aneka jenis roti manis berpori indah itu tertidur pulas di rak2 dingin yg menghuni pojok nan sepi.

(by Agi Betha)



Sumber: fb





Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Bagaimana Cara Berbuat Baik kepada NonMuslim?

TANYA: Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wa sallam-telah melarang untuk memulai menyapa orang-orang kafir dengan salam. Anda juga mengetahui bahwa ada banyak perusahaan-perusahaan di negara-negara Islam yang di dalamnya terdapat orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi direkturnya.
Maka bagaimana cara kita berinteraksi dengan mereka. Dan bagaimana juga caranya menggabungkan hadits di atas dengan penyebaran agama Islam melalui para pedagang, kebaikan akhlak mereka dan muamalah mereka.
Kami mohon penjelasan anda bagaimana cara berinteraksi dengan mereka, kapan interaksi kita dengan mereka terjalin dengan baik dan kapan kita tidak berinteraksi dengan mereka. Apakah interaksi kita dengan mereka bergantung dengan cara interaksi mereka kepada kita?

JAWAB: Alhamdulillah, disitat dari Islamqa, termasuk bentuk keindahan agama kita yang mulia, ia telah memberikan kebaikan bagi alam semesta, menurunkan rahmat kepada seluruh makhluk. Ia mengajak agar kita menjadi duta kesejahteraan dan keadilan untuk semua kemanusiaan; kecuali mereka yang telah menodai tangan-tangan mereka dengan darah umat Islam dan menindas orang-orang lemah.
Allah –Ta’ala- berfirman:
( لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8 .
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah: 8)
Dari penjelasan di atas, maka memungkinkan bagi seorang pegawai muslim berinteraksi dengan direkturnya atau temannya yang non muslim dengan baik kepada kepada mereka.
Pertama:
Menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, sehingga kesan buruk yang difahami banyak orang bahwa non muslim itu selalu unggul dalam pekerjaan menjadi pupus, juga agar umat Islam tidak identik dengan pekerjaan yang setengah-setengah dan meremehkannya. Hal ini sebagaimana yang tertera di dalam Al Qur’an dan Sunnah perintah untuk menjaga amanah, meskipun orang yang mempercayakannya berbeda agama, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
( أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ ) رواه أبو داود (3534) ، وصححه الألباني في ” سنن صحيح أبي داود ” .
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayakannya kepadamu dan janganlah mengkhianati orang yang mengkhianatimu”. (HR. Abu Daud: 3534 dan dishahihkan oleh Albani dalam Sunan Shahih Abu Daud)
Termasuk perbuatan baik kepada mereka: “Menyapa mereka dengan semua ucapan yang mengandung kebaikan, seperti ucapan selamat pagi, selamat sore, menanyakan kabarnya, keluarga dan anak-anaknya, mendoakan agar mendapatkan petunjuk, kebahagiaan dan kebaikan, memuji sifat baik orang kafir tersebut, dan lain sebagainya yang serupa dengan hal itu dari semua sikap kesantunan.
Jangan pernah anda mengira bahwa larangan untuk memulai ucapan salam kepada mereka adalah haram juga mengucapkan selamat dengan bentuk lainnya; kata Salam adalah salah satu dari Nama Allah –Ta’ala- yang memiliki karakteristik khusus dalam agama yang menuntut hanya untuk memulai ucapan di antara kaum muslimin saja. Sedangkan kata selain Salam dari semua bentuk ucapan selamat, seperti: marhaban (selamat datang), semoga pagimu menyenangkan, ahlan wa sahlan (selamat datang) maka tidak bisa dianalogikan dengan kata: “Assalamu’alaikum”.
Disebutkan dalam Al Majmu’ karya Imam Nawawi (4/487):
“Agar mengatakan: “Hadakallah (semoga Allah memberimu hidayah), ‘An’amallahu shabahaka (semoga Allah menjadikan pagimu penuh dengan nikmat), ucapan ini tidak apa-apa jika memang dibutuhkan ucapan selamat kepada mereka untuk mencegah keburukannya dan atau semacamnya, maka hendaknya mengatakan: Semoga pagimu menjadi baik, menyenangkan, sehat dan lain sebagainya”.
Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Daimah, edisi pertama (3/434):
“Tidak boleh memulai untuk mengucapkan salam kepada orang kafir, sebagaimana hadits yang hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
( لا تبدأوا اليهود والنصارى بالسلام ، فإذا لقيتم أحدهم في طريق فاضطروه إلى أضيقه ) رواه مسلم .
“Janganlah kalian memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani !, maka jika kalian berpapasan dengan salah satu dari mereka di jalan, maka himpitlah ke tempat yang lebih sempit”. (HR. Muslim)
Dan di dalam hadits Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
( إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا وعليكم ) رواه البخاري ومسلم
“Jika ahli kitab memberikan salam kepada kalian, maka katakanlah: “Wa ‘alaikum” (Semoga kalian celaka)”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Maka menjawab salam mereka sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh hadits, yaitu: “Wa ‘Alaikum” (Semoga kalian celaka).
Namun tidak apa-apa untuk memulai ucapan: Bagaimana kabarmu ?, selamat pagi, selamat sore, dan lain sebagainya jika hal itu memang dibutuhkan. Beberapa ulama telah menyatakan hal itu dengan jelas, di antaranya adalah Abu Abbas Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.
Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata:
“Sebagian ulama berkata: “Jika kamu berkata: “Selamat pagi, selamat datang wahai fulan, maka yang demikian itu bukan termasuk salam; karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
( لا تبدءوهم بالسلام )
“Janganlah kalian memulai salam kepada mereka”.
Salam itu adalah do’a, berbeda dengan marhaban (selamat datang), Ahlan bi fulan (selamat datang), itu adalah bentuk ucapan bukan salam”. (Liqa Al Bab Al Maftuh)
Dengan ini berarti anda terlah mengerti bahwa tidak bertentangan antara larangan memulai mengucapkan salam kepada mereka dengan akhlak kaum muslimin yang telah menyebarkan Islam di muka bumi.
Termasuk di antara bentuk kebaikan dalam berinteraksi adalah bergabung dengan kebahagiaan dan kesedihan dalam masalah duniawi, adapun kebahagiaan keagamaan mereka yang tertuang pada hari-hari raya mereka, maka jauhilah. Adapun jika dalam yang lainnya maka tidak apa-apa ikut serta, mengunjungi mereka, menjalin hubungan untuk mengucapkan selamat atau belasungkawa, seperti; ketika meraih kesuksesan, baru kembali dari perjalanan, baru sembuh, atau karena meninggalnya kerabat atau teman dekatnya. Kerena jalinan hubungan semacam ini pasti akan mempunyai dampak yang akan terkesan di dalam hati, dengan perangai seperti itu akan tercipta sisi kemanusiaan yang positif pada agama kita yang mulia dan akan bermanfaat baginya untuk mengajaknya ke dalam Islam.



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

TANYA: Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wa sallam-telah melarang untuk memulai menyapa orang-orang kafir dengan salam. Anda juga mengetahui bahwa ada banyak perusahaan-perusahaan di negara-negara Islam yang di dalamnya terdapat orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi direkturnya.
Maka bagaimana cara kita berinteraksi dengan mereka. Dan bagaimana juga caranya menggabungkan hadits di atas dengan penyebaran agama Islam melalui para pedagang, kebaikan akhlak mereka dan muamalah mereka.
Kami mohon penjelasan anda bagaimana cara berinteraksi dengan mereka, kapan interaksi kita dengan mereka terjalin dengan baik dan kapan kita tidak berinteraksi dengan mereka. Apakah interaksi kita dengan mereka bergantung dengan cara interaksi mereka kepada kita?

JAWAB: Alhamdulillah, disitat dari Islamqa, termasuk bentuk keindahan agama kita yang mulia, ia telah memberikan kebaikan bagi alam semesta, menurunkan rahmat kepada seluruh makhluk. Ia mengajak agar kita menjadi duta kesejahteraan dan keadilan untuk semua kemanusiaan; kecuali mereka yang telah menodai tangan-tangan mereka dengan darah umat Islam dan menindas orang-orang lemah.
Allah –Ta’ala- berfirman:
( لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8 .
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah: 8)
Dari penjelasan di atas, maka memungkinkan bagi seorang pegawai muslim berinteraksi dengan direkturnya atau temannya yang non muslim dengan baik kepada kepada mereka.
Pertama:
Menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, sehingga kesan buruk yang difahami banyak orang bahwa non muslim itu selalu unggul dalam pekerjaan menjadi pupus, juga agar umat Islam tidak identik dengan pekerjaan yang setengah-setengah dan meremehkannya. Hal ini sebagaimana yang tertera di dalam Al Qur’an dan Sunnah perintah untuk menjaga amanah, meskipun orang yang mempercayakannya berbeda agama, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
( أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ ) رواه أبو داود (3534) ، وصححه الألباني في ” سنن صحيح أبي داود ” .
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayakannya kepadamu dan janganlah mengkhianati orang yang mengkhianatimu”. (HR. Abu Daud: 3534 dan dishahihkan oleh Albani dalam Sunan Shahih Abu Daud)
Termasuk perbuatan baik kepada mereka: “Menyapa mereka dengan semua ucapan yang mengandung kebaikan, seperti ucapan selamat pagi, selamat sore, menanyakan kabarnya, keluarga dan anak-anaknya, mendoakan agar mendapatkan petunjuk, kebahagiaan dan kebaikan, memuji sifat baik orang kafir tersebut, dan lain sebagainya yang serupa dengan hal itu dari semua sikap kesantunan.
Jangan pernah anda mengira bahwa larangan untuk memulai ucapan salam kepada mereka adalah haram juga mengucapkan selamat dengan bentuk lainnya; kata Salam adalah salah satu dari Nama Allah –Ta’ala- yang memiliki karakteristik khusus dalam agama yang menuntut hanya untuk memulai ucapan di antara kaum muslimin saja. Sedangkan kata selain Salam dari semua bentuk ucapan selamat, seperti: marhaban (selamat datang), semoga pagimu menyenangkan, ahlan wa sahlan (selamat datang) maka tidak bisa dianalogikan dengan kata: “Assalamu’alaikum”.
Disebutkan dalam Al Majmu’ karya Imam Nawawi (4/487):
“Agar mengatakan: “Hadakallah (semoga Allah memberimu hidayah), ‘An’amallahu shabahaka (semoga Allah menjadikan pagimu penuh dengan nikmat), ucapan ini tidak apa-apa jika memang dibutuhkan ucapan selamat kepada mereka untuk mencegah keburukannya dan atau semacamnya, maka hendaknya mengatakan: Semoga pagimu menjadi baik, menyenangkan, sehat dan lain sebagainya”.
Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Daimah, edisi pertama (3/434):
“Tidak boleh memulai untuk mengucapkan salam kepada orang kafir, sebagaimana hadits yang hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
( لا تبدأوا اليهود والنصارى بالسلام ، فإذا لقيتم أحدهم في طريق فاضطروه إلى أضيقه ) رواه مسلم .
“Janganlah kalian memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani !, maka jika kalian berpapasan dengan salah satu dari mereka di jalan, maka himpitlah ke tempat yang lebih sempit”. (HR. Muslim)
Dan di dalam hadits Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
( إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا وعليكم ) رواه البخاري ومسلم
“Jika ahli kitab memberikan salam kepada kalian, maka katakanlah: “Wa ‘alaikum” (Semoga kalian celaka)”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Maka menjawab salam mereka sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh hadits, yaitu: “Wa ‘Alaikum” (Semoga kalian celaka).
Namun tidak apa-apa untuk memulai ucapan: Bagaimana kabarmu ?, selamat pagi, selamat sore, dan lain sebagainya jika hal itu memang dibutuhkan. Beberapa ulama telah menyatakan hal itu dengan jelas, di antaranya adalah Abu Abbas Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.
Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata:
“Sebagian ulama berkata: “Jika kamu berkata: “Selamat pagi, selamat datang wahai fulan, maka yang demikian itu bukan termasuk salam; karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
( لا تبدءوهم بالسلام )
“Janganlah kalian memulai salam kepada mereka”.
Salam itu adalah do’a, berbeda dengan marhaban (selamat datang), Ahlan bi fulan (selamat datang), itu adalah bentuk ucapan bukan salam”. (Liqa Al Bab Al Maftuh)
Dengan ini berarti anda terlah mengerti bahwa tidak bertentangan antara larangan memulai mengucapkan salam kepada mereka dengan akhlak kaum muslimin yang telah menyebarkan Islam di muka bumi.
Termasuk di antara bentuk kebaikan dalam berinteraksi adalah bergabung dengan kebahagiaan dan kesedihan dalam masalah duniawi, adapun kebahagiaan keagamaan mereka yang tertuang pada hari-hari raya mereka, maka jauhilah. Adapun jika dalam yang lainnya maka tidak apa-apa ikut serta, mengunjungi mereka, menjalin hubungan untuk mengucapkan selamat atau belasungkawa, seperti; ketika meraih kesuksesan, baru kembali dari perjalanan, baru sembuh, atau karena meninggalnya kerabat atau teman dekatnya. Kerena jalinan hubungan semacam ini pasti akan mempunyai dampak yang akan terkesan di dalam hati, dengan perangai seperti itu akan tercipta sisi kemanusiaan yang positif pada agama kita yang mulia dan akan bermanfaat baginya untuk mengajaknya ke dalam Islam.



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ucapkan Selamat Pada Perayaan Hari Agama Lain, Bagaimana Hukumnya?

TANYA: Ustadz, Apa hukum memberikan ucapan selamat kepada orang nonMuslim pada hari raya mereka?

JAWAB: Alhamdulillah, disitat dari Islamqa, memberi ucapan selamat pada hari raya Natal atau lainnya dari hari raya keagamaan mereka sepakat diharamkan. Hal itu dinukil oleh Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkam Ahlu Dzimmah’, beliau mengatakan,






‘Adapun memberi ucapan selamat dengan syiar khusus untuk orang kafir, hal itu disepakati keharamannya. Seperti memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka dengan mengucapkan ‘Hari raya yang diberkahi untuk anda.’ Atau memberikan ucapan selamat dengan hari raya ini atau semisal itu. Hal ini, walaupun pelakunya selamat dari kekufuran, maka ia termasuk sesuatu yang diharmakan. Hal itu seperti kedudukannya dengan memberikan ucapan selamat dengan sujudnya kepada salib. Bahkan hal itu lebih besar dosanya disisi Allah dan lebih dimurkai dibandingkan memberi ucapan selamat untuk orang yang meminum khamr dan membunuh jiwa. Serta terjerumus dalam perbuatan asusila yang diharamkan dan semisalnya. Banyak di antara orang yang kurang penghargaan terhadap agama, terjerumus terhadap hal itu. tidak tahu kejelekan apa yang dilakukannya. Barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada seorang hamba yang melakukan kemaksiatan, bid’ah dan kekufuran, maka dia terancam mendapatkan kemurkaan Allah. selesai ucapan beliau rahimahullah.

Sesungguhnya memberi ucapan selamat kepada orang kafir terhadap hari raya agama mereka itu diharamkan sebagaiman  dinyatakan oleh Ibnu Qayim. Karena itu berarti mengakui dan ridha dengan syiar kekufuran mereka, meskipun dia sendiri tidak rela dengan kekafiran itu. Seorang muslim diharamkan ridha dengan syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat dengannya atau lainnya. Karena Allah Ta’ala tidak ridha akan hal itu sebagaimana dalam firman-Nya:

إن تكفروا فإن الله غني عنكم ولا يرضى لعباده الكفر وإن تشكروا يرضه لكم

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az-Zumar: 7)

Dan Firman-Nya,



“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Maka, memberikan ucapan selamat itu haram, baik mereka ikut serta dalam perayaan maupun tidak.

Kalau mereka memberikan ucapan selamat kepada kita dengan hari raya mereka, maka kita tidak memberikan jawaban akan hal itu, karena itu bukan hari raya kita. Dan karena itu hari raya yang Allah tidak rela denganya. Juga karena hal itu adalah perkara yang diada-adakan dalam agama mereka, atau disyariatkan akan tetapi dihapus dengan agama Islam yang Allah utus Muhammad sallallahu alaihi wa sallam kepada seluruh makhluk.

Allah berfirman,

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”  (QS. Ali Imran: 85)

Maka jawaban seorang muslim pada kesempatan semacam ini adalah haram. Hal ini bahkan lebih besar (dosanya) dibandingkan dengan mengucapkan selamat terhadap mereka di hari raya, karena hal itu termasuk ikut serta dengan mereka.

Begitu juga seorang muslim diharamkan menyerupai orang kafir dengan mengadakan perayaan seperti ini, atau saling memberi hadiah, membagikan kue, memasak makanan, libur kerja atau semisal itu. berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Iqtidha As-Syiratal Mustaqim Mukholafatul Ahlil Jahim’ mengtakan,

“Menyerupai mereka pada sebagian hari rayanya, melahirkan kegembiraan dalam hati terhadap kebatilan pada mereka. Kadang mereka memberi makanan untuk memanfaatkan  kesempatan dan  merendahkan orang-orang lemah.”

Barangsiapa yang melakukan sesuatu dari hal itu, maka dia berdosa. Baik dia lakukan sekedar basa basi, pertemanan, malu sebab-sebab lain. Karena hal itu termasuk mudahanah (bermuka dua) dalam agama Allah, dan dapat menguatkan jiwa orang kafir serta rasa bangga kepada agama mereka.

Hanya Allah yang berkuasa memuliakan umat Islam terhadap agamanya, memberi kekuatan  untuk dapat konsisten, serta menolong kaum muslimin menghadapi musuh-musuhnya. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa. []

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

TANYA: Ustadz, Apa hukum memberikan ucapan selamat kepada orang nonMuslim pada hari raya mereka?

JAWAB: Alhamdulillah, disitat dari Islamqa, memberi ucapan selamat pada hari raya Natal atau lainnya dari hari raya keagamaan mereka sepakat diharamkan. Hal itu dinukil oleh Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkam Ahlu Dzimmah’, beliau mengatakan,






‘Adapun memberi ucapan selamat dengan syiar khusus untuk orang kafir, hal itu disepakati keharamannya. Seperti memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka dengan mengucapkan ‘Hari raya yang diberkahi untuk anda.’ Atau memberikan ucapan selamat dengan hari raya ini atau semisal itu. Hal ini, walaupun pelakunya selamat dari kekufuran, maka ia termasuk sesuatu yang diharmakan. Hal itu seperti kedudukannya dengan memberikan ucapan selamat dengan sujudnya kepada salib. Bahkan hal itu lebih besar dosanya disisi Allah dan lebih dimurkai dibandingkan memberi ucapan selamat untuk orang yang meminum khamr dan membunuh jiwa. Serta terjerumus dalam perbuatan asusila yang diharamkan dan semisalnya. Banyak di antara orang yang kurang penghargaan terhadap agama, terjerumus terhadap hal itu. tidak tahu kejelekan apa yang dilakukannya. Barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada seorang hamba yang melakukan kemaksiatan, bid’ah dan kekufuran, maka dia terancam mendapatkan kemurkaan Allah. selesai ucapan beliau rahimahullah.

Sesungguhnya memberi ucapan selamat kepada orang kafir terhadap hari raya agama mereka itu diharamkan sebagaiman  dinyatakan oleh Ibnu Qayim. Karena itu berarti mengakui dan ridha dengan syiar kekufuran mereka, meskipun dia sendiri tidak rela dengan kekafiran itu. Seorang muslim diharamkan ridha dengan syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat dengannya atau lainnya. Karena Allah Ta’ala tidak ridha akan hal itu sebagaimana dalam firman-Nya:

إن تكفروا فإن الله غني عنكم ولا يرضى لعباده الكفر وإن تشكروا يرضه لكم

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az-Zumar: 7)

Dan Firman-Nya,



“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Maka, memberikan ucapan selamat itu haram, baik mereka ikut serta dalam perayaan maupun tidak.

Kalau mereka memberikan ucapan selamat kepada kita dengan hari raya mereka, maka kita tidak memberikan jawaban akan hal itu, karena itu bukan hari raya kita. Dan karena itu hari raya yang Allah tidak rela denganya. Juga karena hal itu adalah perkara yang diada-adakan dalam agama mereka, atau disyariatkan akan tetapi dihapus dengan agama Islam yang Allah utus Muhammad sallallahu alaihi wa sallam kepada seluruh makhluk.

Allah berfirman,

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”  (QS. Ali Imran: 85)

Maka jawaban seorang muslim pada kesempatan semacam ini adalah haram. Hal ini bahkan lebih besar (dosanya) dibandingkan dengan mengucapkan selamat terhadap mereka di hari raya, karena hal itu termasuk ikut serta dengan mereka.

Begitu juga seorang muslim diharamkan menyerupai orang kafir dengan mengadakan perayaan seperti ini, atau saling memberi hadiah, membagikan kue, memasak makanan, libur kerja atau semisal itu. berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Iqtidha As-Syiratal Mustaqim Mukholafatul Ahlil Jahim’ mengtakan,

“Menyerupai mereka pada sebagian hari rayanya, melahirkan kegembiraan dalam hati terhadap kebatilan pada mereka. Kadang mereka memberi makanan untuk memanfaatkan  kesempatan dan  merendahkan orang-orang lemah.”

Barangsiapa yang melakukan sesuatu dari hal itu, maka dia berdosa. Baik dia lakukan sekedar basa basi, pertemanan, malu sebab-sebab lain. Karena hal itu termasuk mudahanah (bermuka dua) dalam agama Allah, dan dapat menguatkan jiwa orang kafir serta rasa bangga kepada agama mereka.

Hanya Allah yang berkuasa memuliakan umat Islam terhadap agamanya, memberi kekuatan  untuk dapat konsisten, serta menolong kaum muslimin menghadapi musuh-musuhnya. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa. []

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ketika Siswa SD Pesta Miras, Salah Siapa?



Oleh: Lavia Sri Dayanti
laviasridayanti@gmail.com

MIRIS. Kata petama yang terucap jika melihat kondisi anak bangsa saat ini. Generasi yang akan memimpin bangsa satu hari nanti. Terlihat pada kasus 5 siswa SD di Samarinda yang meminum miras di kelas.

Sontak kasus ini mengagetkan khalayak ramai. Bagaimana tidak, kelima siswa tersebut melakukannya saat jam pelajaran, ketika guru sedang lengah memperhatikan murid-muridnya. Miras yang dikonsumsi adalah jenis anggur dan oplosan alkohhol 70 persen serta minuman berenergi, sesekali dicampurkan dengan obat sakit kepala.

Mereka memasukan mirasnya ke dalam botol agar tidak ketahuan guru dan teman-teman. Salah satu dari kelima anak tersebut mengaku mendapatkan minuman keras dari warung kelontong dekat sekolah. Akibatnya, saat ditegur oleh guru karena kerap berulah, mereka berani menantang guru untuk berkelahi.

Saat dipanggil ke kantor polisi, salah satu wali mereka menangis histeris tidak menyangka buah hatinya melakukan hal tersebut, karena di rumah terlihat patuh dan tidak suka berulah.



Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada anak-anak tersebut. Mengingat mudahnya cara mereka memeperoleh barang haram itu, kemudian kuatnya contoh konsumsi miras ditengah masyarakat yang rusak. Demikian juga pada keluarga, keluarga memang harus menjaga anak-anaknya dari miras dan hal buruk lainya. Tetapi saat anak keluar dari lingkungan rumah, tidak ada yang bisa menjamin karakter yang telah terbentuk dalam keluarga masih terjaga.

Semua ini adalah buah dari sistem liberal, pemerintah tidak memiliki regulasi tegas untuk menutup pintu produksi dan peredaran miras. Seakan-akan negara berlepas tangan untuk membentuk karakter generasi dan menyerahkan sepenuhnya pada setiap keluarga dalam sistem yang rusak ini.

Maka solusinya tidak cukup pada pembinaan dalam keluarga, tetapi harus mengganti sistem dengan sistem Islam. Karena dalam Islam, negara adalah penjaga generasi bangsa. Negara akan menutup segala bentuk peredaran miras, dan menyiapkan hukuman yang memunculkan efek jera bagi para pelanggar. []

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Oleh: Lavia Sri Dayanti
laviasridayanti@gmail.com

MIRIS. Kata petama yang terucap jika melihat kondisi anak bangsa saat ini. Generasi yang akan memimpin bangsa satu hari nanti. Terlihat pada kasus 5 siswa SD di Samarinda yang meminum miras di kelas.

Sontak kasus ini mengagetkan khalayak ramai. Bagaimana tidak, kelima siswa tersebut melakukannya saat jam pelajaran, ketika guru sedang lengah memperhatikan murid-muridnya. Miras yang dikonsumsi adalah jenis anggur dan oplosan alkohhol 70 persen serta minuman berenergi, sesekali dicampurkan dengan obat sakit kepala.

Mereka memasukan mirasnya ke dalam botol agar tidak ketahuan guru dan teman-teman. Salah satu dari kelima anak tersebut mengaku mendapatkan minuman keras dari warung kelontong dekat sekolah. Akibatnya, saat ditegur oleh guru karena kerap berulah, mereka berani menantang guru untuk berkelahi.

Saat dipanggil ke kantor polisi, salah satu wali mereka menangis histeris tidak menyangka buah hatinya melakukan hal tersebut, karena di rumah terlihat patuh dan tidak suka berulah.



Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada anak-anak tersebut. Mengingat mudahnya cara mereka memeperoleh barang haram itu, kemudian kuatnya contoh konsumsi miras ditengah masyarakat yang rusak. Demikian juga pada keluarga, keluarga memang harus menjaga anak-anaknya dari miras dan hal buruk lainya. Tetapi saat anak keluar dari lingkungan rumah, tidak ada yang bisa menjamin karakter yang telah terbentuk dalam keluarga masih terjaga.

Semua ini adalah buah dari sistem liberal, pemerintah tidak memiliki regulasi tegas untuk menutup pintu produksi dan peredaran miras. Seakan-akan negara berlepas tangan untuk membentuk karakter generasi dan menyerahkan sepenuhnya pada setiap keluarga dalam sistem yang rusak ini.

Maka solusinya tidak cukup pada pembinaan dalam keluarga, tetapi harus mengganti sistem dengan sistem Islam. Karena dalam Islam, negara adalah penjaga generasi bangsa. Negara akan menutup segala bentuk peredaran miras, dan menyiapkan hukuman yang memunculkan efek jera bagi para pelanggar. []

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Masya Allah ... Anak Syria terus Membaca Al Quran Meski dalam Keadaan Terluka



Anak Syria terus Membaca Al Quran Meski dalam Keadaan Terluka



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Anak Syria terus Membaca Al Quran Meski dalam Keadaan Terluka



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !