Selasa, 20 Desember 2016

SUBHANALLAH ! Rahasia di Balik Moncernya Striker Liverpool Ini Adalah Sholat 5 Waktu!


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

CATAT ! Fatwa MUI 56/2016 terbit karena banyak karyawan muslim yang mengeluh dipaksa gunakan atribut natal


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin menegaskan respon sebagain pihak terhadap fatwa MUI no. 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan non-Muslim tidak berimbang.

"Tanggapan terhadap fatwa tidak proporsional, bahkan tidak kontekstual," kata Kiyai Ma'ruf di gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (201/12/2016).

Apalagi, kata Kiyai Ma'ruf, MUI selain mengeluarkan fatwa twrsebuy. MUI juga meminta perlindungan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran syariatnya dengan murni dan benar.

Menurut Kiyai Ma'ruf, fatwa MUI tersebut muncul untuk merespon pertanyaan masyarakat yang mengalami fenomena pengharusan pemakaian atribut Natal di perkantoran, di pertokoan, dan di kantor pemerintah dari pihak-pihak yang ingin memeriahkan acara keagamaannya. Kemudian, MUI mengkaji persoalan tersebut dan mengeluarka fatwa yang intinya.

Pertama, menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram.

"Kedua, mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram," jelasnya.

Secara jelas, kata Kiyai Ma'ruf, fatwa tersebut ditujukan kepada umat Islam agar menjaga akidah dan keyakinannya. "Serta melarang pihak manapun untuk mengajak dan atau memerintahkan kepada umat Islam untuk menggunakan atribut keagamaan non-Muslim, karena hal itu bertentangan dengan akidah dan keyakinannya," ungkapnya.

Lanjutnya, fatwa MUI mempunyai daya ikat keagamaan (ilzam syar'i) dan meruoakan panduan bagi umat Islam dalam menjaga aqidah dan keyakinannya, serta menjadi kaedah penuntun dan sumber inspirasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Oleh karena itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi kepada berbagai pihak , khususnya kepolisian dan kepala daerah yang menjadikan fatwa tersebut sebagai sumber rujukan dalam menjaga ketertiban dan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kiyai Ma'ruf. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin menegaskan respon sebagain pihak terhadap fatwa MUI no. 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan non-Muslim tidak berimbang.

"Tanggapan terhadap fatwa tidak proporsional, bahkan tidak kontekstual," kata Kiyai Ma'ruf di gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (201/12/2016).

Apalagi, kata Kiyai Ma'ruf, MUI selain mengeluarkan fatwa twrsebuy. MUI juga meminta perlindungan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran syariatnya dengan murni dan benar.

Menurut Kiyai Ma'ruf, fatwa MUI tersebut muncul untuk merespon pertanyaan masyarakat yang mengalami fenomena pengharusan pemakaian atribut Natal di perkantoran, di pertokoan, dan di kantor pemerintah dari pihak-pihak yang ingin memeriahkan acara keagamaannya. Kemudian, MUI mengkaji persoalan tersebut dan mengeluarka fatwa yang intinya.

Pertama, menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram.

"Kedua, mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram," jelasnya.

Secara jelas, kata Kiyai Ma'ruf, fatwa tersebut ditujukan kepada umat Islam agar menjaga akidah dan keyakinannya. "Serta melarang pihak manapun untuk mengajak dan atau memerintahkan kepada umat Islam untuk menggunakan atribut keagamaan non-Muslim, karena hal itu bertentangan dengan akidah dan keyakinannya," ungkapnya.

Lanjutnya, fatwa MUI mempunyai daya ikat keagamaan (ilzam syar'i) dan meruoakan panduan bagi umat Islam dalam menjaga aqidah dan keyakinannya, serta menjadi kaedah penuntun dan sumber inspirasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Oleh karena itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi kepada berbagai pihak , khususnya kepolisian dan kepala daerah yang menjadikan fatwa tersebut sebagai sumber rujukan dalam menjaga ketertiban dan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kiyai Ma'ruf. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ada Poster “Umat Islam Dukung Ahok”, Ibu Ini Heroik Terobos Massa Pendukung Ahok

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ratusan massa dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar demonstrasi di depan gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Demo digelar terkait sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini sempat sempat diwarnai kericuhan. Peristiwa itu berawal dari seorang ibu bernama Diah berusaha menerobos barisan massa pendukung Ahok yang juga melakukan demonstrasi.




Kepada wartawan, salah satu peserta demo anti Ahok, Kasman mengatakan alasan perempuan itu masuk ke barisan pendukung karena melihat ada poster yang dibentangkan bertuliskan umat Islam mendukung Ahok.

Tanpa basa-basi petugas polisi dan peserta aksi di barisan massa anti Ahok menghampiri Diah. Perempuan yang mengenakan jilbab warna biru itu juga sempat terlihat berdebat dengan anggota polisi.

“Minta tolong petugas untuk mencabut dan ambil poster itu. Karena tidak ada umat Islam dukung Ahok,” kata Kasman menirukan perkataan Diah, di PN Jakut, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Lantas kericuhan pun tak berlangsung lama karena dilerai petugas polisi yang berjaga di antara kedua kelompok pengunjuk rasa. Beberapa orang dari massa anti Ahok meminta polisi untuk mengamankan poster tersebut.

“Alhamdulillah, nanti mau disweeping,” kata Kasman.

Meski sudah diminta untuk kembali masuk ke barisan massa anti Ahok, Diah masih ngotot agar petugas mencari dan menyita poster tersebut. “Saya warga muslimah Jakarta. Berarti dia Islam yang berbeda. Bener nggak KTP mereka Islam,” ketus Diah.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara dengan agenda mendengar jawaban jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan Ahok. Ada dua kelompok massa yang melakukan demonstrasi di bekas gedung PN Jakpus. Kepolisian pun membuat barikade untuk menyekat dua massa pendukung dan anti Ahok.

Fadlan Syiam Butho

(Arbie Marwan)
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

JAKSA : Ekspesi Ahok yang Mengklaim Peduli Umat Islam Tak Bisa jadi Pembelaan

 Keberatan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menyatakan bahwa sangat peduli dengan umat Islam selama menjabat sebagai gubernur DKI dinilai jaksa sebagai hal yang wajar.

Sebab, sepanjang hal tersebut berkaitan dengan kebijakan Ahok sebagai gubernur adalah hal biasa dan sudah menjadi kewajibannya sebagai gubernur.

“Sehingga hal itu tidak bisa menjadi pembelaan,” ujar jaksa Ali Mukartono saat membacakan materi tanggapan di PN Jakut, Selasa (20/12).

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (kanan) mendengarkan tanggapan Jaksa atas nota keberatan (eksepsi) saat sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama di PN Jakarta Utara, Jakarta, Selasa (20/12). ANTARA FOTO/Pool/M Agung Rajasa/16






Jaksa meminta agar majelis hakim menolak keberatan dari Ahok sebagai terdakwa dan penasihat seluruhnya. Jaksa juga menyatakan bahwa dakwaan pada Ahok telah dibuat secara sah menurut hukum.

“Kami memohon agar pemeriksaan perkara terdakwa dilanjutkan.”

Hakim sendiri memutuskan untuk menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembacaan putusan sela.

Laporan: M Zhacky Kusumo

(Wisnu)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

 Keberatan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menyatakan bahwa sangat peduli dengan umat Islam selama menjabat sebagai gubernur DKI dinilai jaksa sebagai hal yang wajar.

Sebab, sepanjang hal tersebut berkaitan dengan kebijakan Ahok sebagai gubernur adalah hal biasa dan sudah menjadi kewajibannya sebagai gubernur.

“Sehingga hal itu tidak bisa menjadi pembelaan,” ujar jaksa Ali Mukartono saat membacakan materi tanggapan di PN Jakut, Selasa (20/12).

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (kanan) mendengarkan tanggapan Jaksa atas nota keberatan (eksepsi) saat sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama di PN Jakarta Utara, Jakarta, Selasa (20/12). ANTARA FOTO/Pool/M Agung Rajasa/16






Jaksa meminta agar majelis hakim menolak keberatan dari Ahok sebagai terdakwa dan penasihat seluruhnya. Jaksa juga menyatakan bahwa dakwaan pada Ahok telah dibuat secara sah menurut hukum.

“Kami memohon agar pemeriksaan perkara terdakwa dilanjutkan.”

Hakim sendiri memutuskan untuk menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembacaan putusan sela.

Laporan: M Zhacky Kusumo

(Wisnu)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tiga Wajah Pahlawan Muslim yang Tak Bisa Dijumpai Lagi dalam Lembaran Rupiah





Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi berdiri di depan mimbar podium, di samping kanannya berdiri Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo dan di sebelah kirinya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ketiga orang yang memakai batik itu memencet sirine di mimbar.

Sirine berbunyi, dan layar LCD di belakang mereka menampakkan lembaran Rupiah lama yang berputar-putar. Uang lama berwajah para proklamator dan para pahlawan itu berbaris. Kemudian hilang. Lalu muncul kilatan wajah-wajah para pahlawan yang akan mengisi Rupiah baru.

“Dan saya rasa penting, kalau kita cinta rupiah, kita tidak menyebar gosip aneh-aneh dan kabar bohong tentang rupiah. Karena menghina rupiah sama saja menghina Indoensia. Rupiah tidak akan digantilan dan tidak akan tergantikan,” kata Jokowi di Gedung Bank Indonesia dengan gayanya yang khas, Senin (19/12/2016).

Pecahan kertas, dari Rp 100.000 (bergambar Soekarno dan Moh. Hatta), Rp 50.000 (bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp 20.000 (bergambar G.S.S.J Ratulangi), Rp 10.000 (bergambar Frans Kaisiepo), Rp 5.000 (bergambar K.H Idham Chalid), Rp 2.000 (bergambar Mohammad Hoesni Thamrin) dan Rp 1.000 (bergambar Tjut Meutia).

Sementara untuk pecahan logam, mulai dari Rp 1.000 (gambar utama I Gusti Ketut Pudja), Rp 500 (gambar utama Letjend TNI T.B Simatupang), Rp 200 (gambar utama Tjiptomangunkusumo) dan Rp 100 (gambar utama Herman Johannes).

Dari gambar-gambar utama tersebut banyak nama asing yang jarang kita dengarkan, bahkan konon jarang dibahas di buku-buku sejarah. Yang tetap bertahan yaitu Presiden RI pertama Soekarno dan Moh. Hatta. Keduanya berada di posisi pecahan kertas tertinggi. Lalu, ada para pahlawan muslim yang sebelumnya ada tapi di lembaran baru ini tidak ada. Mengapa? Yang tahu tentang ini hanya Jokowi. Nah, berikut para pahlawan yang wajahnya tidak akan kita jumpai lagi di lembaran Rupiah baru.

1. Pangeran Antasari
Antasari adalah Sultan Banjar. Ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja 14 Maret 1862.

Antasari dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah RI berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.

2. Tuanku Imam Bonjol
Nama aslinya adalah Muhammad Shahab. Lahir di Bonjol pada tahun 1772. Ia mendapat beberapa gelar, antara lain Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam.

Tuanku diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

3. Sultan Mahmud Badaruddin II
Ia adalah anak dari Sultan Mahmud Badaruddin. Ia memimpin pertempuran melawan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng.

Selain diabadikan dalam lembaran Rupiah, namanya juga diabadikan sebagai bandara internasional di Palembang.

Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Mahmud Badaruddin II, wajah-wajahnya tak akan menghiasi lagi dalam lembaran rupiah yang kita pegang. [Paramuda/BersamaDakwah] 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !





Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi berdiri di depan mimbar podium, di samping kanannya berdiri Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo dan di sebelah kirinya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ketiga orang yang memakai batik itu memencet sirine di mimbar.

Sirine berbunyi, dan layar LCD di belakang mereka menampakkan lembaran Rupiah lama yang berputar-putar. Uang lama berwajah para proklamator dan para pahlawan itu berbaris. Kemudian hilang. Lalu muncul kilatan wajah-wajah para pahlawan yang akan mengisi Rupiah baru.

“Dan saya rasa penting, kalau kita cinta rupiah, kita tidak menyebar gosip aneh-aneh dan kabar bohong tentang rupiah. Karena menghina rupiah sama saja menghina Indoensia. Rupiah tidak akan digantilan dan tidak akan tergantikan,” kata Jokowi di Gedung Bank Indonesia dengan gayanya yang khas, Senin (19/12/2016).

Pecahan kertas, dari Rp 100.000 (bergambar Soekarno dan Moh. Hatta), Rp 50.000 (bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp 20.000 (bergambar G.S.S.J Ratulangi), Rp 10.000 (bergambar Frans Kaisiepo), Rp 5.000 (bergambar K.H Idham Chalid), Rp 2.000 (bergambar Mohammad Hoesni Thamrin) dan Rp 1.000 (bergambar Tjut Meutia).

Sementara untuk pecahan logam, mulai dari Rp 1.000 (gambar utama I Gusti Ketut Pudja), Rp 500 (gambar utama Letjend TNI T.B Simatupang), Rp 200 (gambar utama Tjiptomangunkusumo) dan Rp 100 (gambar utama Herman Johannes).

Dari gambar-gambar utama tersebut banyak nama asing yang jarang kita dengarkan, bahkan konon jarang dibahas di buku-buku sejarah. Yang tetap bertahan yaitu Presiden RI pertama Soekarno dan Moh. Hatta. Keduanya berada di posisi pecahan kertas tertinggi. Lalu, ada para pahlawan muslim yang sebelumnya ada tapi di lembaran baru ini tidak ada. Mengapa? Yang tahu tentang ini hanya Jokowi. Nah, berikut para pahlawan yang wajahnya tidak akan kita jumpai lagi di lembaran Rupiah baru.

1. Pangeran Antasari
Antasari adalah Sultan Banjar. Ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja 14 Maret 1862.

Antasari dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah RI berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.

2. Tuanku Imam Bonjol
Nama aslinya adalah Muhammad Shahab. Lahir di Bonjol pada tahun 1772. Ia mendapat beberapa gelar, antara lain Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam.

Tuanku diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

3. Sultan Mahmud Badaruddin II
Ia adalah anak dari Sultan Mahmud Badaruddin. Ia memimpin pertempuran melawan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng.

Selain diabadikan dalam lembaran Rupiah, namanya juga diabadikan sebagai bandara internasional di Palembang.

Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Mahmud Badaruddin II, wajah-wajahnya tak akan menghiasi lagi dalam lembaran rupiah yang kita pegang. [Paramuda/BersamaDakwah] 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

BENARKAH ? Uang Pecahan Baru Tak Dicetak oleh Peruri, Melainkan Pengusaha Keturunan China


Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyebutkan uang pecahan baru Tahun Emisi (2016) yang telah diluncurkan secara resmi Senin (19/12) kemarin dicetak di dalam negeri. Sebagian bahan baku uang tersebut berasal dari impor melalui beberapa negara dan beberapa perusahaan tender.

Namun Agus enggan menyebutkan siapa pihak perusahaan yang melakukan pencetakan uang, meskipun terdengar kabar bahwa uang tersebut tidak dicetak oleh Prum Peruri, melainkan oleh pihak swasta yang berada di Kota Kuduus Jawa Tengah. Agus mengklaim proses tender tersebut dilakukan secara profesional dan dimenangkan oleh perusahaan secara governance-nya berkategori sangat baik.
“Kalau bahan baku, ada dari impor dan ada dari nasional. Tetapi pencetakannya sepenuhnya di negara Indonesia. Tentu bahan baku ada beberapa sumber dari beberapa negara. Dan itu dilakukan dengan cara tender internasional yang governance-nya baik. Saya tidak bisa sebutkan asal negaranya,” kata Agus di Jakarta, Selasa (20/12).

Selanjutnya Agus menyatakan Bank Indonesia sangat memiliki kesiapan mendistribusikan uang baru tersebut ke seluruh penjuru Indonesia, diperkirakan dalam waktu 3 bulan, uang tersebut telah tersebar secara merata. Namun untuk persoalan jumlah dana yang disebar, ia merasa hal itu bagian dari kerahasiaan Bank Indonesia.

“Kita suda siap mengedarkannya melalui Bank Indonesia di 33 proviinsi dan kita mempersiapkan yang lengkap dari uang Rp100 ribu hingga ke pecahan uang logam. Jumlahnya kami tidak bisa sebutkan tapi kami kira dalam jumlah yang cukup,” tandas Agus.

Informasi yang diterima Aktual.com dan masih dalam penelusuran, bahwa uang tersebut tidak dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), namun melainkan dicetak di Perusahaan milik Swasta di Kota Kudus, Jawa Tengah. (akt) 






Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyebutkan uang pecahan baru Tahun Emisi (2016) yang telah diluncurkan secara resmi Senin (19/12) kemarin dicetak di dalam negeri. Sebagian bahan baku uang tersebut berasal dari impor melalui beberapa negara dan beberapa perusahaan tender.

Namun Agus enggan menyebutkan siapa pihak perusahaan yang melakukan pencetakan uang, meskipun terdengar kabar bahwa uang tersebut tidak dicetak oleh Prum Peruri, melainkan oleh pihak swasta yang berada di Kota Kuduus Jawa Tengah. Agus mengklaim proses tender tersebut dilakukan secara profesional dan dimenangkan oleh perusahaan secara governance-nya berkategori sangat baik.
“Kalau bahan baku, ada dari impor dan ada dari nasional. Tetapi pencetakannya sepenuhnya di negara Indonesia. Tentu bahan baku ada beberapa sumber dari beberapa negara. Dan itu dilakukan dengan cara tender internasional yang governance-nya baik. Saya tidak bisa sebutkan asal negaranya,” kata Agus di Jakarta, Selasa (20/12).

Selanjutnya Agus menyatakan Bank Indonesia sangat memiliki kesiapan mendistribusikan uang baru tersebut ke seluruh penjuru Indonesia, diperkirakan dalam waktu 3 bulan, uang tersebut telah tersebar secara merata. Namun untuk persoalan jumlah dana yang disebar, ia merasa hal itu bagian dari kerahasiaan Bank Indonesia.

“Kita suda siap mengedarkannya melalui Bank Indonesia di 33 proviinsi dan kita mempersiapkan yang lengkap dari uang Rp100 ribu hingga ke pecahan uang logam. Jumlahnya kami tidak bisa sebutkan tapi kami kira dalam jumlah yang cukup,” tandas Agus.

Informasi yang diterima Aktual.com dan masih dalam penelusuran, bahwa uang tersebut tidak dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), namun melainkan dicetak di Perusahaan milik Swasta di Kota Kudus, Jawa Tengah. (akt) 






Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saat Ramadhan Hormatilah Yang Tidak Puasa, Saat Natal Kok Sebaliknya, Toleransi Kok Gitu ?



Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.






Kok toleransi seperti itu, sih?


Toleransi kan seharusnya SALING menghormati. Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.

Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan? Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



Dulu ketika Ramadhan, kamu bilang, "Hormatilah yang tidak berpuasa." Kami yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Kini menjelang hari Natal, kami jugalah yang harus menghormatimu. Kami harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.






Kok toleransi seperti itu, sih?


Toleransi kan seharusnya SALING menghormati. Tapi kok kami terus yang harus menghormatimu?

Sementara kamu justru tidak pernah menghormati KEYAKINAN kami. Kamu tidak menghormati keyakinan kami yang tidak boleh mengucapkan selamat natal, tidak boleh pakai atribut natal.

Itu adalah keyakinan kami. Itu bukan sikap rasis atau intoleran. Jika kami melarang bahkan mengganggu perayaan ibadah agamamu, nah... itu baru intoleran.

Tapi selama ini kami tetap menghargai ibadah agama kamu, kan? Kami tetap membiarkan kamu merayakan ibadah agama kamu, kan?

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Kami hanya ingin keyakinan kami dihormati, tapi kok kami pula yang dituduh intoleran dan rasis? Sementara di bulan puasa, kamu juga yang minta dihormati.

Duh, toleransi seperti apakah namanya jika kejadiannya seperti ini? Menurut saya sih, ini bukan toleransi, tapi TIRANI MINORITAS.

@Jonru


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !