Selasa, 20 Desember 2016

Kisah Cinta Dibalik Lahirnya Salahuddin Alayyubi, Sang Pembebas Baitul Maqdis


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:

“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

“Siapa?”

“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”

Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).

Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Malaikat Malik, Heran dengan Para Penghuni Neraka Ini



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2e2d3NAAVYOOJK2lVYmhcfKG-uv_H_yINSqv068N0-LI83hmSlca0-yPdnTDv6BAyHKg-k_CkYofMYCGWsdQukwJfka5mb6j8-vLWzThgGvVwfKBhg0KeNPLx7fyZY8ORKDPq0nXqPw0/s320/neraka.jpg

ORANG yang berdosa tentu akan masuk neraka. Ya hal itu sudah pasti kita ketahui. Dan di dunia ini ada dua jenis manusia yang berdosa. Yakni, manusia yang memang benar-benar berdosa, seperti kaum kafir. Ada pula yang berdosa, tetapi sebenarnya ia beriman, yakni mengakui bahwa Allah itu Tuhannya. Lantas, seperti apa orang-orang berdosa ini digiring ke neraka?

Manusia yang menjadi musuh Allah digiring ke neraka. Wajah mereka hitam pekat, matanya melotot, mulutnya dikunci. Tatkala mereka sampai di pintu neraka, mereka disambut oleh Zabaniyah dengan membawa belenggu dan rantai. Rantai itu diletakkan di mulut orang kafir lalu dikeluarkan dari duburnya. Tangan kirinna dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dadanya, lalu dicabut dari antara kedua bahunya. Mereka diikat dengan rantai yang digandengkan dengan setan dalam satu rantai. Selanjutnya mereka diseret dengan wajahnya. Mereka terus dipukuli oleh malaikat dengan gada besi (sejenis palu).

Ketika orang kafir hendak keluar dari neraka, maka para malaikat mengembalikan mereka ke neraka. Lalu, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka ini yang dulu pernah kamu dustakan.”



Fatimah RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya tentang umatmu?” Beliau menjawab, “Para malaikat itu menggiring umatku ke neraka dengan wajahnya tetap putih (tidak hitam), maka mereka tidak melotot, mulut mereka tidak terkunci, mereka juga tidak digandengkan dengan setan, rantai dan belenggunya tidak diletakkan di atas mereka.”

Fatimah lantas bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menuntun umat?” Beliau menjawab, “Adapun orangtua dan anak muda, maka keduanya dipegang dengan jenggotnya. Sedangkan perempuan akan dipegang gulungan rambutnya dan ubun-ubunnya, maka banyak orang yang beruban dari umatku yang dicabut ubannya lalu dituntun ke neraka. Ia terus menjerit-jerit, ‘Aduh… masa mudaku, aduh… kelemahanku.’ Banyak dari kalangan umatku yang ditarik jenggotnya kemudian dituntun ke neraka, mereka menjerit-jerit, ‘Aduh… rasa maluku, aduh… kerusakan tutupku.’ Sehingga, umatku itu sampai di tempat malaikat Malik.”

Ketika malaikat Malik melihat mereka, ia bertanya kepada malaikat yang membawa umatku, “Siapa mereka, aku belum pernah melihat orang celaka yang sangat mengherankan ini, wajah mereka tidak hitam, sedangkan letak rantai dan belenggu di lehernya?” Malaikat yang membawa menjawab, “Kami diperintahkan mendatangkan mereka dalam keadaan seperti ini.” Malaikat Malik lalu bertanya kepada mereka, “Wahai orang yang celaka, siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Muhammad ﷺ.”



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2e2d3NAAVYOOJK2lVYmhcfKG-uv_H_yINSqv068N0-LI83hmSlca0-yPdnTDv6BAyHKg-k_CkYofMYCGWsdQukwJfka5mb6j8-vLWzThgGvVwfKBhg0KeNPLx7fyZY8ORKDPq0nXqPw0/s320/neraka.jpg

ORANG yang berdosa tentu akan masuk neraka. Ya hal itu sudah pasti kita ketahui. Dan di dunia ini ada dua jenis manusia yang berdosa. Yakni, manusia yang memang benar-benar berdosa, seperti kaum kafir. Ada pula yang berdosa, tetapi sebenarnya ia beriman, yakni mengakui bahwa Allah itu Tuhannya. Lantas, seperti apa orang-orang berdosa ini digiring ke neraka?

Manusia yang menjadi musuh Allah digiring ke neraka. Wajah mereka hitam pekat, matanya melotot, mulutnya dikunci. Tatkala mereka sampai di pintu neraka, mereka disambut oleh Zabaniyah dengan membawa belenggu dan rantai. Rantai itu diletakkan di mulut orang kafir lalu dikeluarkan dari duburnya. Tangan kirinna dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dadanya, lalu dicabut dari antara kedua bahunya. Mereka diikat dengan rantai yang digandengkan dengan setan dalam satu rantai. Selanjutnya mereka diseret dengan wajahnya. Mereka terus dipukuli oleh malaikat dengan gada besi (sejenis palu).

Ketika orang kafir hendak keluar dari neraka, maka para malaikat mengembalikan mereka ke neraka. Lalu, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka ini yang dulu pernah kamu dustakan.”



Fatimah RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya tentang umatmu?” Beliau menjawab, “Para malaikat itu menggiring umatku ke neraka dengan wajahnya tetap putih (tidak hitam), maka mereka tidak melotot, mulut mereka tidak terkunci, mereka juga tidak digandengkan dengan setan, rantai dan belenggunya tidak diletakkan di atas mereka.”

Fatimah lantas bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menuntun umat?” Beliau menjawab, “Adapun orangtua dan anak muda, maka keduanya dipegang dengan jenggotnya. Sedangkan perempuan akan dipegang gulungan rambutnya dan ubun-ubunnya, maka banyak orang yang beruban dari umatku yang dicabut ubannya lalu dituntun ke neraka. Ia terus menjerit-jerit, ‘Aduh… masa mudaku, aduh… kelemahanku.’ Banyak dari kalangan umatku yang ditarik jenggotnya kemudian dituntun ke neraka, mereka menjerit-jerit, ‘Aduh… rasa maluku, aduh… kerusakan tutupku.’ Sehingga, umatku itu sampai di tempat malaikat Malik.”

Ketika malaikat Malik melihat mereka, ia bertanya kepada malaikat yang membawa umatku, “Siapa mereka, aku belum pernah melihat orang celaka yang sangat mengherankan ini, wajah mereka tidak hitam, sedangkan letak rantai dan belenggu di lehernya?” Malaikat yang membawa menjawab, “Kami diperintahkan mendatangkan mereka dalam keadaan seperti ini.” Malaikat Malik lalu bertanya kepada mereka, “Wahai orang yang celaka, siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Muhammad ﷺ.”



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Masyarakat Aceh Tolak Gambar Cut Meutia tak Berjilbab di Uang Baru, Pemerintah Harus Tarik Kembali


Aceh ~ Konsorsium Peusaba dan Anggota Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi mengecam keras lukisan pahlawan Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada lembaran uang kertas terbaru pecahan seribu rupiah tanpa jilbab.

“Kami mengecam lukisan srikandi Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada mata uang baru tanpa berjilbab, ini sangat mencoreng nama baik Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Syariat Islam,” ujar Mawardi Usman kepada mediaaceh via telepon seluler, Selasa, 20 Desember 2016.

Konsorsium yang bergerak aktif dalam bidang sejarah, adat dan budaya Aceh ini menilai, pemuatan lukisan itu tidak sesuai dengan karakter Cut Meutia yang dikenal sebagai srikandi Aceh dan pejuang Islam. Mawardi mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar menarik ulang dan menggantinya dengan lukisan Cut Meutia yang berhijab. Hal ini dikatakan Mawardi untuk mencegar peredaran uang kertas ke khalayak publik.

“Kami mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar segera menariknya. Tujuannya adalah untuk menghindari sikap mosi tak percaya rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat yang secara nyata telah mencoreng nama baik pahlawan Aceh,” ujar Mawardi Usman

Sementara itu di tempat berbada, Asrizal H  menaakan kalau diAceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya. Jadi adanya uang baru gambar cut mutia tanpa jilbab menurutnya melemahkan usaha tersebut.

Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.

Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia. (Tribun/int) 

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah








BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 








http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Aceh ~ Konsorsium Peusaba dan Anggota Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi mengecam keras lukisan pahlawan Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada lembaran uang kertas terbaru pecahan seribu rupiah tanpa jilbab.

“Kami mengecam lukisan srikandi Aceh, Cut Meutia yang dicetak pada mata uang baru tanpa berjilbab, ini sangat mencoreng nama baik Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Syariat Islam,” ujar Mawardi Usman kepada mediaaceh via telepon seluler, Selasa, 20 Desember 2016.

Konsorsium yang bergerak aktif dalam bidang sejarah, adat dan budaya Aceh ini menilai, pemuatan lukisan itu tidak sesuai dengan karakter Cut Meutia yang dikenal sebagai srikandi Aceh dan pejuang Islam. Mawardi mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar menarik ulang dan menggantinya dengan lukisan Cut Meutia yang berhijab. Hal ini dikatakan Mawardi untuk mencegar peredaran uang kertas ke khalayak publik.

“Kami mendesak kepada pihak Bank Indonesia agar segera menariknya. Tujuannya adalah untuk menghindari sikap mosi tak percaya rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat yang secara nyata telah mencoreng nama baik pahlawan Aceh,” ujar Mawardi Usman

Sementara itu di tempat berbada, Asrizal H  menaakan kalau diAceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya. Jadi adanya uang baru gambar cut mutia tanpa jilbab menurutnya melemahkan usaha tersebut.

Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.

Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia. (Tribun/int) 

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah








BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 








http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUDAHKAH Anda Bertobat dari Nyinyirin Fatwa MUI? Ini Cerita Tobatnya Tere Liye




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !




Ternyata penulis dan novelis terkenal Tere Liye dulu sering Nyinyirin Fatwa MUI. Kini dia sudah bertobat.

Berikut penuturan penulis novel best seller 'Hafalan Shalat Delisa' tentang masa lalu nyinyirin fatwa MUI yang diposting di laman fanpagenya (20/12/2016);

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2.

“Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam.

“Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan?

Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya?

Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye.

(Tere Liye)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

FOTO ini membantah Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru ?

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Khusus Rakyat Aceh Tolong bagikan Status Ini agar Pemerintah Pusat tau kita Rakyat Aceh Protes.

Foto Cut Meutia di Uang Seribu lagi-lagi tidak memakai Jilbab,


untuk apa di tampilkan di uang kalau tampilannya merendahkan Rakyat Aceh?,


Kami Seluruh Rakyat Aceh, meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menggantikan Foto Cut Meutia di Uang tersebut.


Demi Allah, Kami Rakyat Aceh, Kami Utamakan Agama Allah.

Demi Allah, Wahai Rakyat Aceh, Janganlah menjual Agama Allah, demi kepentingan Hasrat kita.


Soal Cut Meutia tidak pakai jilbab di uang rupiah baru, 
awalnya diposting di facebook Serambi Mekkah






Pasang Gambar Cut Mutia Tanpa Hijab di Pecahan Seribu, Wakil Rakyat Aceh Anggap itu Pelecehan



LANGSA – Meskipun Pahlawan Cut Mutia dijadikan sebagai gambar di pecahan uang Rp.1.000, tidak serta merta membanggakan warga Aceh di mana pahlawan itu berasal.


Bahkan sebagian orang menilai penempatan gambar Cut Mutia tanpa hijab di uang tersebut sebagai pelecehan terhadap Aceh.

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Ia meminta kepada Bank Indonesia dan bank-bank di Aceh tidak mengedar uang baru pecahan Rp 1.000.

Menurut Asrizal, bila uang pecahan Rp 1.000 itu beredar, ini akan melukai proses penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

“Uang itu juga merendahkan martabat perempuan Aceh,” kata Asrizal, Selasa (20/12/2016).
Asrizal menilai BI tidak cermat saat memilih foto untuk dijadikan gambar pada pecahan baru tersebut.

Hal ini juga dinilai Asrizal sebagai propaganda untuk melawan syariat Islam di Aceh.
Dengan beredarnya uang ini, maka perempuan di Aceh akan menilai pejuang Aceh itu tidak mengenakan hijab.

“Di saat kita memperjuangkan penegakan syariat Islam, Pemerintah Pusat malah mensosialisasikan hal yang terbalik. Ini jelas-jelas melecehkan Aceh dan sangat tidak sensitif,” kata Ketua Fraksi PAN DPR Aceh itu.

Dikutip dari AJNN, Asrizal menilai BI sebagai otoritas pengendali mata uang di negara ini tidak melakukan riset mendalam tentang sosok Cut Mutia sebenarnya. Karena di masyarakat Aceh, Cut Mutia dikenal mengenakan hijab.




Cut Meutia Tidak Berjilbab di Uang Rupiah Baru, Ini Penjelasan BI



 Belum selesai dituduh mirip yuan, uang rupiah desain baru kembali diterpa isu miring. Kali ini, menyasar kepada para pahlawan yang terpampang di rupiah baru.

Salah satu yang ramai dibicarakan di media sosial (medsos) adalah foto pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia. Beberapa netizen menuduh foto Cut Meutia tidak sesuai gara-gara tidak memakai jilbab.

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Suhaedi, mengatakan pemilihan foto pahlawan sudah melalui diskusi panjang dengan banyak pihak.




"Semua foto pahlawan, setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, kita mintakan persetujuan dan masukan dari ahli waris apabila ada yang lebih pas," kata Suhaedi ketika dihubungi detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Ia menambahkan, semua pemilihan foto juga dilakukan dengan hati-hati. Pewarnaan dan pencahayaan juga diatur supaya terlibat lebih cerah.

"Semua dilakukan dengan hati-hati, misalnya perubahan foto seorang pahlawan supaya kelihatan lebih cerah dan bersemangat," katanya.

Selain Cut Meutia, pahlawan asal Aceh yang fotonya juga pernah terpampang di uang rupiah adalah Cut Nyak Dien. Pahlawan yang meninggal 1908 di Sumedang itu juga tidak memakai jilbab di pecahan Rp 10.000.


BAGAIMANA DENGAN FOTO INI ? 









http://archives.portalsatu.com/news/foto-lokasi-wisata-sejarah-rumoh-cut-meutia/

Foto: Lokasi Wisata Sejarah Rumoh Cut Meutia


LHOKSUKON – Lokasi wisata sejarah Rumoh Cut Meutia yang berada di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara terlihat sepi pengunjung, Minggu 6 September 2015 sore.
Para pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu. Untuk kendaraan roda doa dapat diparkir langsung ke dalam halaman Rumoh Cut Meutia dengan tariff parkir Rp 3ribu per sepeda motor. Sementara untuk roda empat (mobil) diparkir di luar pagar dengan tariff Rp 5ribu.
“Di sini kadang pengunjungnya cukup ramai, namun terkadang juga sepi. Ya beginilah, mungkin karena lokasinya yang jauh,” kata Muslem, 32 tahun, juru kunci Rumoh Cut Meutia saat ditemui portalsatu.com.



Beberapa pengunjung yang ditemui menyebutkan, mereka datang ke lokasi sejarah itu untuk sekedar melepas penat. Ada juga yang sengaja datang untuk memperkenalkan anaknya akan sejarah Aceh masa lampau. Pengunjung yang datang didominasi remaja yang sekedar datang untuk mengabadikan gambar (foto).
“Di sini tenang dan tidak berisik. Bosan juga jika setiap akhir pekan hanya ke laut saja. Sesekali bolehlah kemari. Hanya saja lokasinya cukup jauh dengan lintasan jalan banyak yang rusak,” ujar Ihsan, 24 tahun, salah seorang pengunjung dari Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama di lokasi:





Lukisan Cut Mutia yang dimodelkan oleh cucunya, Cut Nursiah

Salah satu gambar di dinding rumah yang sudah luntur.

Papan nama Rumah Cut Mutia

Tugu di pekarangan Rumah Cut Mutia

Kroeng, tempat penyimpanan padi.

Jingki, penumbuk padi

"Cut Meutia" Dari Kritikan Foto Tanpa Hijab Hingga Makam Yang Tersisih Di Hutan Belantara Aceh Utara


Cut Nyak Meutia salah seorang pahlawan Aceh yang kelahirannya di Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada 1870  dan wafat di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910 yang juga Istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang Makamnya di Moen Geudong Lhokseumawe kini jadi perdebatan publik dan kontroversi terhadap penempatan fotonya di uang Rp 1.000 tanpa mengenakan hijap.

Bukan hanya itu, yang paling Sangat di sayangkan adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi  membela rakyat dan bangsanya tersebut  di saat melawan Belanda hanya dipamerkan nama hingga dikenal oleh dunia internasional, dan pernah di cantum fotonya di uang Republik Indonesia Rp. 10.000 pada tahun 1998, dan pada saat ini Desember 2016, gambar Cut Meutia dibubuhi di recehan uang Rp 1.000, namun makamnya yang tergeletak di hutan belantara Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara tersebut tak dirawat bahkan lintasan untuk di lalui sangat sulit. karena jalan yang  berbatu karang, rusak dan ditutupi pepohonan yang tumbang.

Dikutip dari laman Serambinews.com, Selasa, 20 Desember 2016, Anggota DPRA dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi memprotes gambar pahlawan Aceh, Cut Meutia yang tidak mengenakan penutup kepala atau jilbab pada uang pecahan seribu rupiah.
"Kita di Aceh sedang menggalakan penggunaan pakaian dengan aturan syariat Islam dan penegakan hukumnya, jangan dilemahkan usaha tersebut dengan gambar sang pejuang tanpa penutup kepala," katanya, Selasa (20/12/2016).
Protes itu awalnya disampaikan melalui laman facebooknya atas nama Asrizal H Asnawi.
Selain menulis status yang bernada protes, Asnawi juga melampirkan uang pecahan seribu rupiah bergambar Cut Meutia yang baru dirilis oleh Bank Indonesia.
Dia berharap perbankan di Aceh tidak mengedarkan uang pecahan tersebut di wilayah Aceh. "Bantu Kami dalam proses penegakan hukum Allah di bumi Aceh," ujar politisi PAN ini.
Namun kita sangat mengharapkan, selain dikritik tentang hijab foto Cut Nyak Meutia, tetapi pemerintah harus fokus pada perawatan makamnya, terutama jalan ang harus diperbaiki
demi pengembangan sejarah yang akan mudah di lalui oleh masyarakat.(SA/TM)







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

SUBHANALLAH ! Rahasia di Balik Moncernya Striker Liverpool Ini Adalah Sholat 5 Waktu!


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Sejak dibeli dari Southampton, pemain sepakbola Sadio Mane langsung mendapat amanah menjadi bomber utama The Reds.

Pemain berkewarganegaraan Senegal itu sukses memciptakan bentuk trio lini depan mematikan bersama Philippe Coutinho dan Roberto Firmino.  Pria berusia 24 tahun itu total telah membukukan 7 gol dari 17 penampilan buat The Reds.

Mane seperti dilansir laman Liverpool FC juga merupakan pemegang rekor hat-trick tercepat di Premier League. Mane mencetak tiga dalam waktu 176 detik saat melawan Aston Villa pada musim 2014-15, memecahkan rekor Robbie Fowler yakni 4 menit 33 detik.






Lalu, apa rahasia di balik moncernya performa Mane? Mane ternyata sosok yang taat. Sebagai seorang yang menganut agama Islam, Mane tak pernah meminum alkohol dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

"Saya tak akan menyentuh alkohol. Bagi saya, agama sangat penting. Saya menghormati peraturan Islam dan selalu sholat lima waktu," kata Mane.


Mayoritas orang Senegal, kata Mane, memeluk agama Islam. Kehidupan beragama di Senegal pun berlangsung dengan damai.

"Teman saya, Luke adalah seorang Nasrani dan kami selalu saling mengunjungi rumah masing-masing," ucapnya Mane. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

CATAT ! Fatwa MUI 56/2016 terbit karena banyak karyawan muslim yang mengeluh dipaksa gunakan atribut natal


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin menegaskan respon sebagain pihak terhadap fatwa MUI no. 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan non-Muslim tidak berimbang.

"Tanggapan terhadap fatwa tidak proporsional, bahkan tidak kontekstual," kata Kiyai Ma'ruf di gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (201/12/2016).

Apalagi, kata Kiyai Ma'ruf, MUI selain mengeluarkan fatwa twrsebuy. MUI juga meminta perlindungan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran syariatnya dengan murni dan benar.

Menurut Kiyai Ma'ruf, fatwa MUI tersebut muncul untuk merespon pertanyaan masyarakat yang mengalami fenomena pengharusan pemakaian atribut Natal di perkantoran, di pertokoan, dan di kantor pemerintah dari pihak-pihak yang ingin memeriahkan acara keagamaannya. Kemudian, MUI mengkaji persoalan tersebut dan mengeluarka fatwa yang intinya.

Pertama, menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram.

"Kedua, mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram," jelasnya.

Secara jelas, kata Kiyai Ma'ruf, fatwa tersebut ditujukan kepada umat Islam agar menjaga akidah dan keyakinannya. "Serta melarang pihak manapun untuk mengajak dan atau memerintahkan kepada umat Islam untuk menggunakan atribut keagamaan non-Muslim, karena hal itu bertentangan dengan akidah dan keyakinannya," ungkapnya.

Lanjutnya, fatwa MUI mempunyai daya ikat keagamaan (ilzam syar'i) dan meruoakan panduan bagi umat Islam dalam menjaga aqidah dan keyakinannya, serta menjadi kaedah penuntun dan sumber inspirasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Oleh karena itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi kepada berbagai pihak , khususnya kepolisian dan kepala daerah yang menjadikan fatwa tersebut sebagai sumber rujukan dalam menjaga ketertiban dan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kiyai Ma'ruf. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin menegaskan respon sebagain pihak terhadap fatwa MUI no. 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan non-Muslim tidak berimbang.

"Tanggapan terhadap fatwa tidak proporsional, bahkan tidak kontekstual," kata Kiyai Ma'ruf di gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (201/12/2016).

Apalagi, kata Kiyai Ma'ruf, MUI selain mengeluarkan fatwa twrsebuy. MUI juga meminta perlindungan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran syariatnya dengan murni dan benar.

Menurut Kiyai Ma'ruf, fatwa MUI tersebut muncul untuk merespon pertanyaan masyarakat yang mengalami fenomena pengharusan pemakaian atribut Natal di perkantoran, di pertokoan, dan di kantor pemerintah dari pihak-pihak yang ingin memeriahkan acara keagamaannya. Kemudian, MUI mengkaji persoalan tersebut dan mengeluarka fatwa yang intinya.

Pertama, menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram.

"Kedua, mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram," jelasnya.

Secara jelas, kata Kiyai Ma'ruf, fatwa tersebut ditujukan kepada umat Islam agar menjaga akidah dan keyakinannya. "Serta melarang pihak manapun untuk mengajak dan atau memerintahkan kepada umat Islam untuk menggunakan atribut keagamaan non-Muslim, karena hal itu bertentangan dengan akidah dan keyakinannya," ungkapnya.

Lanjutnya, fatwa MUI mempunyai daya ikat keagamaan (ilzam syar'i) dan meruoakan panduan bagi umat Islam dalam menjaga aqidah dan keyakinannya, serta menjadi kaedah penuntun dan sumber inspirasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Oleh karena itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi kepada berbagai pihak , khususnya kepolisian dan kepala daerah yang menjadikan fatwa tersebut sebagai sumber rujukan dalam menjaga ketertiban dan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kiyai Ma'ruf. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !